JOMBANG - Punya banyak sampah tempurung kelapa? jangan langsung dibuang! Tempurung kelapa ternyata bisa diolah kembali jadi benda bernilai jual tinggi.
Seperti yang dilakukan Totok Wibowo, 40, warga Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben, Jombang ini. Limbah tempurung kelapa di tangannya disulap menjadi arang untuk bahan baku briket.
Tumpukan karung berisi arang bekas pembakaran tempurung kelapa memenuhi halaman rumah sederhana di Desa Carangrejo, Kecamatan Kesamben.
Arang tersebut kemudian disortir sebelum dikemas. Ya, tumpukan arang itulah yang jadi sumber cuan bagi Totok Wibowo.
Setahun belakangan ini, ia fokus mengembangkan usaha pengolahan limbah tempurung kelapa untuk bahan baku pembuatan briket.
”Saya menekuni usaha ini setahun lalu. Arang-arang ini kita pasarkan ke pabrik pembuatan briket di Pasuruan dan Mojokerto,’’ terangnya sembari mengemas briket dalam karung besar.
Dalam sekali produksi, Totok membutuhkan paling tidak 15 ton bahan baku tempurung kelapa dalam kondisi basah.
Proses awal dimulai dengan memasukkan bahan baku sebanyak tiga kuintal tempurung kelapa itu ke dalam wadah besar untuk dibakar.
Setelah habis terbakar, arang tersebut ditumpuk lagi dengan tempurung kelapa lain. Begitu dilakukan hingga bahan tempurung habis.
”Dibakar terus, setelah diproses 15 ton bahan baku nanti jadi sekitar 5 ton jadi arang,’’ tambahnya.
Setelah padam, arang tersebut tidak dibiarkan begitu saja. Melainkan, dipadamkan apinya dengan air hingga merata.
Kemudian dilanjutkan dengan proses penghampaan dengan karung goni basah selama kurang lebih satu sampai tiga hari.
”Setelah itu kita bongkar batok kelapa yang sudah menjadi arang dan dilakukan pengayakan sebelum dilakukan pengemasan,’’ jelas dia.
Tapi jumlah itupun tidak tentu, terkadang bisa laku semua dan terkadang sebaliknya sepi. Untuk bahan baku berupa batok kelapa basah, ia biasa membeli dengan harga Rp 1.200 per kilogram (Kg).
Bahan baku tersebut didapatkan dari pasar hingga pedagang kelapa yang ada di wilayah Jombang, Mojokerto hingga luar pulau.
”Kalau sudah jadi arang harga kisaran Rp 5.500 sampai Rp 7.000 per Kg,’’ tandasnya.
Dalam sebulan, Totok bisa meraup untung hingga jutaan rupiah. Menurutnya, usaha tersebut cukup berpotensi untuk dikembangkan ke depan. ”Untung kisaran Rp 4 juta per bulan,’’ pungkasnya senang. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW