JOMBANG - Keuletan Widawati, 45 salah satu produsen tempe rumahan patut dicontoh. Sejak 2017 menekuni usaha pembuatan tempe.
Widawati, juga masih bertahan di tengah tak menentunya harga bahan baku. Terlebih, tempe buatannya dikemas mini dengan harga terjangkau.
Senja mulai turun sore itu. Perempuan parobaya bergegas menuju dapur dan mengangkat panci besar berisi rebusan kedelai.
Sejurus kemudian, kedelai itu ditiriskan dalam bakul plastik. Setelah sekitar 30 menit, kedelai yang telah tiris itu diangkat ke ruang tamu untuk dimasukkan ke dalam plastik kecil ukuran 15 x 10 cm.
Aktivitas Widawati, 45, ibu rumah tangga yang menekuni usaha pembuatan tempe rumahan itu dijalaninya sejak enam tahun lalu.
”Saya mulai usaha 2017. Perlahan lahan saya tekuni dan bisa bertahan sampai sekarang,’’ ujarnya saat ditemui, Jumat (18/8) lalu.
Setiap hari, ia berkutat memproduksi tempe di rumahnya. Prosesnya diawali dengan merebus kedelai, meniriskan kedelai hingga kering sebelum akhirnya difermentasi dengan ragi. ”Setelah kita campur dengan ragi, baru dimasukkan plastik untuk dikemas,’’ jelas dia.
Dalam mengemas tempe, pihaknya tak menggunakan alat pres. Namun dilakukan secara manual menggunakan api kecil untuk merekatkan bungkus tempe. ”Ya pakai lilin, karena alat pres belum punya,’’ tambahnya.
Harga bahan baku kedelai akhir-akhir ini memang tak menentu. Baru beberapa hari, harganya stabil di angka Rp 11.000 per kilogram.
”Sebelumnya pernah Rp 14.000 per Kg, saya sempat kerepotan. Alhamdulillah sekarang turun, jadi ada kenaikan omzet,’’ jelasnya.
Dijelaskan, harga tempe buatannya sangat terjangkau untuk berbagai kalangan. Dijual mulai harga Rp 1.000 sampai dengan Rp 3.000 per satu potong.
”Memang untuk kemasan saya bikin yang bervariasi, mulai kecil-kecil agar lebih disukai kalangan,’’ tambah dia.
Untuk pemasaran, Widawati selama ini baru melayani pasar lokal. Keterbatasan produksi dan alat yang dimiliki, membuatnya belum berani memasarkan lebih luas.
Meski begitu, ia tetap bersyukur karena hasil produksinya mampu mengasilkan hingga Rp 4 juta per bulan. ”Kalau pemasaran saat ini di Pasar Ploso dan Pasar Jombang,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)
Editor : Achmad RW