Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Kerajinan Tambir dari Bambu Masih Eksis di Jombang, Ini Salah Satu Pembuatnya

Achmad RW • Sabtu, 12 Agustus 2023 | 13:53 WIB
Sukri, warga Dusun Dapurno, Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang saat membuat kerajinan tambir.
Sukri, warga Dusun Dapurno, Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang saat membuat kerajinan tambir.

JOMBANG - Kerajinan tambir berbahan anyaman bambu, masih eksis di Jombang. Proses produksinya pun, menggunakan cara tradisional.

Salah satunya pembuat tambir yang masih eksis, adalah Sukri, 50, warga Dusun Dapurno, Desa Dapurkejambon, Kecamatan/Kabupaten Jombang. 

Jemari pria paro baya itu, tampat cekatan menganyam potongan bambu di teras rumah. Ditemani sebuah radio klasik, ia tampak santai sembari sesekali memandangi warga yang melintas di depan rumahnya.

Tak butuh waktu lama, satu persatu potongan bambu itu disulap menjadi anyaman berbentuk bundar dengan diameter sekitar 70 sentimeter.

Meski di tengah kemajuan zaman, aktivitas Sukri yang membuat anyaman tambir, masih tetap berlangsung. Menurutnya, kerajinan itu memang masih diminati.

”Ini kerajinan turun temurun dari keluarga. Saya mulai membantu bapak sejak kelas 2 SD atau sekitar umur 8 tahun,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Bentuk tambir, sekilas memang mirip tampah. Namun fungsinya sebenarnya  berbeda. Tambir, memiliki bentuk yang cenderung lebih besar dibandingkan tampah.

Bagian bawahnya juga berbentuk cekung. Berbeda dengan tampah yang cenderung datar.

”Kalau tampah biasanya kan digunakan untuk membersihkan beras dari kotoran. Sedangkan tambir digunakan untuk meniriskan atau menjemur bahan makanan seperti jagung, ketela, kerupuk, emping dan kedelai,’’ tambah bapak dua anak ini.

Selama ini, Sukri mengerjakan tambir sendirian. Saking terbiasanya, ia mampu menyelesaikan tiga sampai empat anyaman tambir dalam sehari.

Dalam sepekan ia kadang bisa mengumpulkan sekitar 20 tambir yang selanjutnya dijual di pasar. Termasuk dikirim ke produsen kerupuk dan kedelai.

”Ya biasanya dikirim ke Jombang juga, ada pabrik kecap di situ,’’ jelas dia. Untuk satu biji anyaman tambir, dijual dengan harga Rp 20.000.

Dalam memasarkan kerajinan tambir, ia mengaku tak kesulitan karena sudah memiliki pelanggan tetap. ”Kalau pemasaran ya sudah ada pelanggan. Selama ini saya mengerjakan sesuai kemampuan,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz)

 

 

Editor : Achmad RW
#Anyaman Bambu #Jombang #kerajinan #tambir