Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cuwo, Kerajinan Gerabah Tradisional Tempat Makanan Kelinci yang Makin Tersisih

Anggi Fridianto • Senin, 7 Agustus 2023 | 15:15 WIB

 

 

Robi
Robi

JOMBANG - Robi'ah, warga Dusun Mojokembang, Desa Karanglo, Kecamatan Mojowarno hingga kini masih aktif memproduksi cuwo, sebuah kerajinan gerabah tradisional.

Di usianya yang sudah mencapai 75 tahun, ia tetap produktif membuat produk gerabah tradisional wadah pakan kelinci dari tanah liat ini.

Jemari kusut Robiah masih terampil saat memutar perbot, alat tradisional yang terbuat dari kayu bundar untuk membentuk gerabah tradisional dari tanah liat di sebuah rumah sederhana Dusun Mojokembang siang itu.

Sedikit demi sedikit adonan tanah liat yang sudah dihaluskan ia bentuk menjadi gerabah.

Ya, itulah aktivitas keseharian Robiah. Ia sudah puluhan tahun memproduksi gerabah. Ia mengaku bisa membuat beragam gerabah. Di antaranya cobek, pot juga cuwo.

Cuwo digunakan untuk tempat makan maupun minum kelinci. Jika dulu banyak dicari pembeli, cuwo buatannya kini mulai sepi. ”Ya ada yang beralih tempat makan plastik, namun permintaan cuwo masih ada,’’ tambahnya lirih.

Pembuatan cuwo dilakukan secara tradisional. Mulanya, ia mendapat bahan baku dari tanah liat yang diambil dari sawah yang usai dipanen. Ia meyakini, sawah sisa panen kualitasnya cukup bagus untuk dijadikan kerajinan olahan tangan itu.

”Bahan baku kita mengambil dari sawah sisa-sisa tanah yang telah memasuki masa panen, itu pun sudah dipersilahkan pemilik untuk mengambilnya,’’ tandasnya.

Dibantu anak sulungnya, bahan baku tanah liat diolah untuk membuat gerabah. Diproses secara tradisional dengan perbot, hingga penjemuran dan pembakaran pun dengan cara tradisonal. ”Sementara ini masih mengunakan cara tradisional,’’ jelas dia.

Sebelum dilanjutkan proses pembakaran, cuwo yang telah dibuat kemudian dijemur di bawah terik matahari. Saat musim kemarau seperti ini, proses penjemuran bisa lebih cepat sehingga mendukung produksi cuwo.

”Proses pengeringan jika musim penghujan bisa membutuhkan waktu yang lumayan lama, sekitar satu hingga dua minggu,’’ jelas dia.

Sedangkan, untuk proses pembakaran ia perlu mengumpulkan 100 gerabah dulu. Itu dilakukan untuk menghemat proses pembakaran agar lebih efisien. ”Ya nunggu sekalian banyak, kemudian baru dibakar,’’ pungkasnya. (ang/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#cuwo #gerabah #Mojowarno #Jombang #kerajinan #Tanah liat #tradisional