Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Tak Punya Penerus, Kesenian Kentrung Asli Jombang ini Terancam Punah

Anggi Fridianto • Senin, 24 Juli 2023 | 13:10 WIB

 

Badri, memainkan kendang milik grup kentrungnya yang masih tersimpan. Kesenian kentrung Jatimenok ini memang telah terancam punah
Badri, memainkan kendang milik grup kentrungnya yang masih tersimpan. Kesenian kentrung Jatimenok ini memang telah terancam punah

JOMBANG - Nasib kesenian kentrung Jatimenok asal Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang terancam punah. Selain minimnya job, hingga kini tak ada lagi penerus untuk kesenian ini.

Badri, 86, adalah satu-satunya pelakon kesenian ini yang tersisa. Ditemui di rumahnya di Dusun Jatimenok, Desa Rejosopinggir, ia masih tampak lihai kala menabuh kendang.

Meski pandangan matanya sudah mulai kabur, namun sang maestro seni kentrung Jatimenok ini masih semangat kala memainkan kendang tua di ruang tamunya itu.

Usia kendang milik Badri bisa dibilang sama seperti usianya sekitar 86 tahun. Sebab, kendang itu adalah peninggalan ayahnya. Ya, itulah Badri, pegiat kesenian kentrung Jatimenok yang masih tersisa.

”Saya bermain kesenian kentrung sejak 1960-an. Bersama tiga anggota lainnya,” ujar dia dengan suara lantang kala sejumlah wartawan berkunjung ke rumahnya, Jumat (21/7).

Sembari mengingat kenangan masa lalunya, ia menceritakan masa kejayaan kentrung Jatimenok pada tahun 70-80-an. Seni bertutur yang diiringi alat musik tabuh itu dulunya banyak diminati masyarakat dari berbagai kalangan.

Mulai masyarakat kalangan menengah ke bawah hingga kalangan pejabat. ”Saya dulu punya grup. Namanya Kentrung Muda,” tambahnya.

Kesenian kentrung umumnya dimainkan beberapa personel. Personel pertama memainkan alat musik camplung, dan personel lain memainkan terbangan, ketipung, dan kendang.

Dalam pertunjukannya, alat musik itu dimainkan sambil bertutur yang disampaikan seorang dalang. ”Tutur itu disampaikan dalang, kebetulan saya dalangnya,’’ terang Badri ini.

Dijelaskan, kentrung sendiri memiliki arti kata “njluntrung” alias keliling. Arti itu, merujuk pada kesenian kentrung yang biasanya keliling dari satu lokasi ke lokasi lain.

Dalam petunjukan kentrung, Badri biasanya membawakan cerita yang memiliki nilai sejarah. Misalnya, sejarah Angling Darmo, Pandawa dan Kurawa, dan cerita pewayangan lainnya.  

”Kami (Kentrung Muda) biasanya melontarkan cerita pada sejarah zaman dulu dengan bahasa Jawa krama alus,’’ terangnya.

Ia bercerita, semasa kecil, ia sering mengikuti ayahnya bermain kesenian kentrung. Ia juga sering ikut latihan manggung bersama grup ayahnya.

”Kebetulan dulu bapak saya juga musisi kentrung. Sejak kecil saya selalu mengikuti ayah tanggapan di mana-mana. Kemudian setelah lulus sekolah saya bisa bermain kentrung dan memanfaatkannya dengan ngamen keliling dari Jombang hingga ke Mojokerto,’’ tandasnya.

Hingga saat ini, Badri masih menyimpan beberapa alat musik kentrung. Alat musik warisan ayahnya itu, masih tersimpan rapi dan terawat dengan baik. ”Alat musik ini sudah tua peninggalan dari ayah saya, tapi masih tetap kokoh dan bisa dipakai,’’ tandasnya.

Disinggung soal perkembangan kesenian kentrung Jatimenok di Jombang, Badri sendiri mengaku kesulitan mencari generasi penerus. Sebab, anak muda zaman sekarang rata-rata lebih tertarik dengan mengikuti perkembangan zaman.

”Saya memiliki lima orang anak, dan itupun tidak ada yang mau meneruskan, mereka sibuk bergelut dengan kerjanya masing-masing,” pungkasnya. (ang/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#rejosopinggir #kentrung #Jombang #tembelang #kesenian