Suara burung puyuh terdengar riuh saat Suelsi memasuki kandang di belakang rumahnya di Dusun Sukoharjo, Desa Penggaron. Suara burung saling bersahutan, seolah berteriak minta makan. Tak berselang lama, ia meminta burung puyuh diam.
“Sssh...shhh..., Ya begini burung puyuh, kalau telat makan bisa bersuara terus,’’ ujarnya kepada Jawa Pos Radar Jombang. Aktivitas Suelsi itu dilakukan setiap hari. Sebagai pembudidaya burung puyuh, ia harus memerhatikan asupan makanan si burung.
Menurutnya, budi daya burung puyuh susah-susah gampang. ”Kuncinya harus menjaga kebersihan kandang serta tidak boleh telat makan. Karena kalau telat makan produksi telur bisa merosot,’’ tambahnya.
Selain jadwal pemberian pakan, hal lain yang diperhatikan pembudi daya burung puyuh adalah memperhatikan kesehatan burung. Misalnya jika ada puyuh yang sakit tentu harus segera diobati. ”Kalau ada yang pilek bisa dikasih vitamin,’’ jelas dia.
Disampaikan, budidaya burung puyuh dilakukan sejak awal tahun lalu. Lantaran ajakan saudaranya yang sebelumnya terlebih dulu beternak burung puyuh. ”Ya, karena tidak ada kegiatan, jadi saya mulai ternak burung puyuh. Dulu modalnya jual sepeda motor buat beli bibit,’’ tambahnya.
Keuntungan budidaya burung puyuh menurutnya bisa panen setiap hari. Harga jual telur puyuh juga bersaing. ”Hasilnya lumayan, per hari bisa panen 1.800 butir telur dari total 3.000 ekor burung di kandang,’’ jelas dia.
Untuk harga, Suelsi menjual per butir dibanderol dengan harga Rp 335-340. Dari total 1.800 butir, ia mendapat omset sekitar Rp 600 ribu per hari. ”Tapi itu belum dipotong biaya pakan dan lain-lain,’’ pungkasnya. (ang/bin/riz) Editor : Achmad RW