Ahmad Surasmintuhu, 42, generasi ketiga dari keluarganya yang membuat berondong ketan. ’’Sudah puluhan tahun, sejak zaman kakek nenek saya,’’ ucap pria yang akrab disapa Amin Berondong ini kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Proses pembuatan berondong ketan terbilang cukup sederhana. Pertama, gabah ketan dibersihkan dari kulit dan kotoran menggunakan tampah bambu, istilahnya ditapeni. Setelah bersih, kemudian gabah disangrai menggunakan abu ke dalam kendil yang telah dipanaskan dengan bara api sedang. Biasanya menggunakan kayu dan kulit gabah agar api lebih awet menyala. ’’Kita aduk dengan sapu lidi kurang lebih 5 menit sampai gabah ketan meledak jadi berondong,’’ jelasnya.
Berondong yang matang disortir lagi dengan cara diayak dengan tampah bambu. ’’Kemudian proses terakhir kita campur dengan gula agar rasanya manis,’’ paparnya. Jajanan jadul berondong ketan itu sama sekali tidak menggunakan bahan pewarna dan pengawet. Dalam kemasan plastik, berondong bisa bertahan selama tiga hari. ’’Pernah kita coba menggunakan berbagai varian rasa, namun rasanya malah menjadi aneh, jadi sampai saat ini kita hanya menggunakan gula saja,’’ tandasnya.
Jajan berondong dijual per ikat dengan harga Rp 7 ribu yang berisi 10 kemasan plastik. Harga tersebut sejak dulu tak mengalami perubahan banyak. ’’Per ikat Rp 7 ribu, tapi kalau beli banyak ada bonusnya,’’ terangnya.
Penjualannya selama ini di Jombang dan Mojokerto. Keterbatasan tenaga membuat produksi berondong terbatas setiap harinya. ’’Pengirimannya paling jauh ke Mojokerto dan pasar Peterongan,’’ ungkapnya.
Jumlah Produsen Makin Berkurang
DULU, di Dusun Ngumpak, Desa Bawangan, Ploso, ada beberapa produsen berondong ketan. Namun lambat laun, jumlahnya berkurang dan hanya menyisakan satu keluarga saja.
’’Saat ini tinggal kami saja. Dulu disini terkenal dengan sentra produsen berondong ketan,’’ ujar Amin, produsen berondong ketan (4/6).
Salah satu faktor yang membuat jumlah produsen berondong menurun karena berkurangnya minat generasi muda. ’’Sekarang banyak yang kerja di luar. Baik di pabrik maupun usaha lain,’’ paparnya.
Dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Bawangan, Bahtiar Effendi, mengatakan, berondong ketan di Dusun Ngumpak merupakan salah satu produk UMKM khas utara Brantas yang kini masih bertahan.
’’Berondong ketan memang satu-satunya di sini (Dusun Ngumpak), produksinya sudah bertahun tahun dan usahanya diwariskan secara turun temurun,’’ ungkapnya.
Berondong ketan khas Bawangan dikenal dengan rasanya yang gurih dan manis. Hingga kini, berondong ketan sudah memiliki pasar tersendiri. ’’Lebih banyak dipasarkan di pasar tradisional, dan sudah ada yang mengambil sendiri untuk dipasarkan,’’ jelasnya. (ang/jif/riz) Editor : Achmad RW