Saat didatangi di kediamannya. Ia bersama sejumlah pekerja lainnya nampak sibuk untuk merakit tasbih pesanan pelanggan. Bahan utama dari kerajinan ini salah satunya memanfaatkan limbah kaca yang banyak orang membuangnya begitu saja. Namun baginya, pecahan kaca tersebut disulap jadi kerajinan yang bernilai.
Pecahan kaca tersebut mulanya dilakukan pembakaran. Setelah kaca meleleh kemudian dilakukan proses pemanasan kembali dengan suhu di atas 200 derajat celcius, hingga menjadi adonan. Kemudian dilakukan pewarnaan dan dibentuk layaknya tiang kecil yang memanjan.
Kemudian ke tahap pemotongan dengan ukuran kecil-kecil. Setelah itu dilanjutkan ke tahap pembersihan yang ketika usai, siap dirangkai menggunakan benang khusus menjadi tasbih, kalung, gelang dan lain sebagainya.
Nah, di momen jelang ibadah haji, salah satu produknya ini biasanya diburu para jemaah haji, yakni tasbih dan gelang. Di tempat produksi manik-manik milik Nur Wachid misalnya, order tasbih datang setiap hari.
Ada saja calon jamaah haji atau kerabat mereka yang datang untuk memesan tasbih. Rata-rata, memesan tasbih berukuran sedang dan hanya ada beberapa yang memesan tasbih panjang. ”Kalau musim haji seperti ini memang banyak pesanan berupa tasbih dan gelang,” katanya.
Ia mengaku, pesanan yang datang kepadanya sudah mencapai puluhan ribu tasbih dan gelang. Bahkan, produksinya harus dikebut agar barang yang dipesan bisa selesai tepat waktu. ”Biasanya sehari itu membuat 100 biji tasbih. Karena permintaan meningkat ya sehari bisa 300,” bebernya.
Untuk harga tasbih atau gelang manik-manik buatannya cukup bervariasi. Mulai dari harga Rp 20 ribu hingga ratusan ribu rupiah. Semua bergantung model dan tingkat kerumitan pembuatannya. ”Untuk oleh-oleh biasanya yang harga Rp 20 ribuan,” kata dia.
Bukan hanya warga lokal Jombang. Manik-manik buatannya juga tembus ke manca negara. Terutama berbentuk kalung dan gelang. ”Biasanya kami kirim ke Amerika dan Afrika Selatan karena peminatnya di sana cukup tinggi,” pungkas Nur Wachid. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW