Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Bisnis Kerajinan Rajut yang Pasti Bikin Kepincut di Jombang

Achmad RW • Senin, 29 Mei 2023 | 14:32 WIB
Produk yang dihasilkan Yovita dari merajut di rumahnya Dusun Beyan, Desa Pandanwangi, Diwek.
Produk yang dihasilkan Yovita dari merajut di rumahnya Dusun Beyan, Desa Pandanwangi, Diwek.
JOMBANG – Seorang ibu rumah tangga di Dusun Beyan, Desa Pandanwangi, Kecamatan Diwek mengembangkan usaha kerajinan rajut. Di tangannya, benang-benang gelondongan bisa diolah menjadi aneka kerajinan indah dan bernilai jual tinggi.

Pemiliknya bernama Yovita Aprilia, 32. Ia menyulap ruang tamu rumahnya menjadi tempat membuat kerajinan. Dompet, tempat HP, kotak tisu hingga tas wanita dibuatnya sendiri dengan tangan. ’’Semuanya dirajut pakai tangan, manual, dan dikerjakan sendiri,’’ ungkapnya.

Proses pembuatan rajutan, dimulai dari pesanan yang datang. Ia menyediakan beberapa katalog yang bisa dipilih di akun medsosnya. ia, memilih tak membuat stok banyak dan baru akan membuat rajutan ketika pesanan datang.  Yovita menggunakan benang gelondongan sebagai bahan baku utama. ’’Bahannya bisa yang polyester, atau katun, tergantung mau kaku atau lembutnya produk,’’ lanjutnya.

Proses perajutannya dilakukan secara manual. Ini membutuhkan waktu dan kesabaran. ’’Dompet atau kotak tisu biasanya selesai sehari, kalau tas yang besar bisa 4-5 hari,’’ imbuhnya.

Selain barang jadi, ia juga menyediakan rajutan yang disebutnya granny. Rajutan ini, berbentuk panel segi empat dengan motif di tengahnya. Warnanya pun dibuat warna-warni. ’’Ini sekarang yang paling banyak dicari,’’ lontar Yovita.

Granny, biasa dicari orang untuk diproduksi ulang. Pembelinya, bisa mengolah panel itu menjadi aneka bentuk kerajinan lain dengan cara disatukan dan dijahit. ’’Harganya juga lebih murah,’’ tambahnya.

Karena dikerjakan secara manual, harga produknya lebih mahal. Rajutan kecil seperti dompet, kotak tisu dan wadah HP seharga Rp 45 ribu. Sementara untuk tas, Rp 125 ribu. ’’Granny Rp 3 ribu satu panelnya,’’ tambahnya.

Selain telah menyebar di Jombang dan kota-kota lain di sekitarnya, produknya telah merambah pasar Jawa Tengah bahkan luar Jawa. ’’Yang terakhir kemarin sampai ke Wamena, Papua,’’ ungkapnya.

Belajar dari Nol di Medsos

MENJADI pebisnis kerajinan rajut, tak pernah terpikirkan oleh Yovita. Usaha ini baru dirintisnya dua tahun terakhir. Ia mempelajarinya dari sejumlah forum di internet.

’’Sebelumnya sudah bisa menjahit, karena sering bikin kerajinan dari bahan flanel-flanel,’’ ungkapnya.

Dua tahun lalu, Yovita baru mengenal rajutan. Ia melihat kerajinan itu saat iseng membuka laman facebook. ’’Bentuknya bagus-bagus, saya mulai tertarik, dan mencoba belajar. Sebelumnya tidak bisa merajut sama sekali,’’ bebernya.

Ia ikut banyak grup belajar kesenian rajut. Melalui sharing secara online, ia pun mulai belajar merajut benda-benda kecil. ’’Lebih banyak belajar online sebenarnya, baik lewat forum, maupun lihat tutorial di Youtube,’’ lontarnya.

Hasilnya, kini cukup membantu. Ia memiliki pekerjaan sampingan sembari merawat anaknya di rumah. Hasil dari bisnisnya itu, bisa mencapai Rp 1 juta perbulan.  ’’Lumayan buat tambahan, apalagi bisa dikerjakan di rumah,’’ pungkasnya. (riz/jif/riz) Editor : Achmad RW
#Pandanwangi #Rajutan #Jombang #diwek #kerajinan #Beyan #Jombang Banget