Nunuk belajar membatik dari sang ibu, yang juga perajin batik. Sejak tujuh tahun lalu, ia telah menciptakan empat motif yang mengusung tema budaya khas Jombang. ’’Ada empat motif yang sudah kami patenkan. Sekarang jalan motif kelima,’’ katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang kemarin (2/10).
Motif pertama pesona Jombang. Di motif ini, ia mengekspresikan beberapa potensi unggulan Jombang. Seperti durian bido khas Wonosalam, manik-manik Gudo, cengkeh, kopi dan tembakau. Motif kedua, batik besutan yang mengenalkan budaya besutan sebagai cikal bakal kesenian luduk.
Motif ketiga, Rimbi Puro Mojo yang mengenalkan pesona Candi Arimbi di Desa Pulosari, Bareng, sebagai pintu gerbang Majapahit selatan. Keempat Nala Patma Dipa yang juga menggabungkan beberapa unsur budaya khas Jombang.
’’Yang terakhir, kami membuat motif Tunggul Anggraini Bayangkari. Gabungan sejarah Majapahit dengan motif khas Garuda Wishu di Sumberbeji. Serta ada benteng Polri sebagai garda terdepan negara,’’ paparnya.
Nunuk membuatnya dalam batik cap dan tulis. Batik tulis disebutnya lebih mahal karena harus melalui proses panjang mulai membuat pola, mencating hingga proses pewarnaan secara berulang kali. ’’Batik tulis kami lebih menonjolkan seni. Butuh keuletan dan kesabaran dari pembatik,’’ jelasnya.
Untuk pemasaran, Nunuk tak hanya mengandalkan relasi atau kenalan. Dibantu anak-anaknya yang juga pembatik, Nunuk mulai merintis pemasaran ke luar negeri, khususnya Thaliand. ’’Pemasaran kami selama ini fokus di kota-kota se-Indonesia. Kami juga mulai merambah ke manca negara,’’ tandasnya.
Harga batik buatan Nunuk bervariasi. Batik cap ukuran 2 X 1,15 meter Rp 70 ribu – Rp 100 ribu. Batik tulis dijual mulai Rp 300 ribu. ’’Yang paling mahal Rp 7 juta, batik tulis sutra,’’ ungkapnya.
Latih Difabel Membatik
NUNUK mempekerjakan masyarakat setempat untuk membatik. Juga mengajak beberapa difabel bekerja di rumahnya. Meski sulit dan butuh keuletan dalam melatih difabel membatik, hasil karya mereka tak kalah dengan pekerja lainnya.
Setiap kecap bibir Nunuk diperhatikan betul oleh sejumlah difabel yang membatik kemarin (2/10). Secara perlahan, mereka membatik menirukan pola yang sudah dibuat. Paling mudah membuat motif Pesona Jombang yang menggabungkan unsur keragaman Jombang.
’’Untuk melatih mereka butuh kesabaran ekstra dan harus telaten. Terutama pada tuna wicara atau tuna rungu. Mereka saya minta memperhatikan mimik bibir saya agar mengerti apa yang saya ucapkan,’’ terangnya.
Para warga disabilitas yang bekerja dirumah Nunuk, awalnya peserta pelatihan yang difasilitasi Disdagrin Jombang. Secara perlahan mereka bekerja sebagai freelance. ’’Mereka ada yang curhat, di rumah banyak waktu luang. Akhirnya saya ajak kesini untuk freelance,’’ paparnya.
Hingga kini, ada delapan orang disabilitas yang bekerja di rumah Nunuk. Mereka tidak bekerja full time, melainkan paruh waktu menyesuaikan waktu mereka. ’’Mereka juga saya bolehkan membawa pekerjaanya pulang. Di rumah bisa disambi memasak, dan melakukan pekerjaan rumah lainnya,’’ paparnya.
Setelah belajar di rumah Nunuk, para difabel kini menghasilkan beberapa produk. Menurutnya, asal diarahkan dengan tepat, hasil batik buatan difabel bisa sama seperti yang kita inginkan. ’’Hasilnya sama dengan pekerja normal. Karena pada intinya, mereka punya potensi masing-masing,’’ bebernya. (ang/jif/riz)
Editor : Achmad RW