Wiro mulai menekuni usaha membuat layang–layang hias sejak 2021 ketika pandemi Covid-19. Sejumlah pekerjaan dicoba Wiro untuk menyambung hidup. Namun yang bertahan hanya membuat layang-layang. ’’Sekarang sudah mulai banyak pesanan. Apalagi musim kemarau seperti ini,’’ katanya sembari membuat layang-layang, kemarin (18/9).
Layang-layang buatannya berbahan kain peles. Sehingga tidak gampang robek, lebih awet bahkan bisa dicuci. ’’Ini juga bisa dilipat seperti payung. Jadi lebih rapi dan tidak memakan tempat saat disimpan,’’ tambahnya.
Proses pembuatannya, Wiro mengawali dengan kerangka dari bambu. Kemudian dilanjutkan membuat pola sesuai karakter yang diinginkan. Wiro membuat karakter animasi karena lebih disukai anak-anak. Setelah membuat pola, ia kemudian ngemal kain peles diatas pola. Ia menggunakan alat sederhana berupa gunting dan solder listrik. ’’Terakhir, kain peles yang sudah dibentuk sesuai pola, kita rakit dengan bambu,’’ paparnya. Terakhir, dia memberikan hiasan sesuai karakter.
Setiap hari, Wiro bisa membuat puluhan layangan hias. Jumlah itu tergantung tingkat kerumitan layang-layang. ’’Membuat satu layangan paling cepat 30 menit. Tingkat kesulitan tergantung karakternya,’’ jelasnya.
Seiring banyaknya pesanan, Wiro mengaku makin kewalahan melayani pembeli. Untuk menyiasatinya, ia kini dibantu sejumlah pekerja. ’’Beberapa teman di lingkungan sini saya ajak membantu. Membuat layangan ini butuh keuletan. Apalagi saat pesanan banyak,’’ bebernya.
Dipasarkan hingga Malaysia
MESKI baru memulai usahanya setahun lalu, layangan hias bikinan Wiro ternyata sudah dipasarkan ke luar negeri. Diantaranya ke Sarawak, Malaysia. Dalam sebulan, Wiro bisa meraup omzet hingga puluhan juta.
”Selain di lokal Jombang, pemasaran saya juga ke Madiun, Probolinggo dan ada juga yang ke Sarawak,’’ ujarnya, kemarin (18/9).
Wiro lebih banyak memasarkan layangan hiasnya lewat reseller. Mereka mengambil layangan dari Wiro dengan harga grosir yang lebih murah. ’’Saya kirim ke luar kota, lalu dijual lagi. Begitu juga yang di Sarawak Malaysia, ada teman yang jadi TKI kemudian jualan layang-layang saya,’’ tambahnya.
Layangan hias kreasi Wiro, satu buahnya dibanderol Rp 35 ribu. Ada juga layangan pesanan khusus dengan ukuran besar yang dijual Rp 200 ribu. ’’Paling murah Rp 35 ribu. Tapi ada yang sampai Rp 200 ribu,’’ terangnya.
Dalam sebulan, penjualannya bisa mencapai puluhan juta. Tergantung pesanan yang masuk. ’’Untuk omzet, bisa Rp 20 juta per bulan,’’ ucapnya. (ang/jif/riz) Editor : Achmad RW