Siang itu, Facthur Rohman perajin tasbih asal Desa Bawangan, Kecamtan Ploso, bersama tiga pekerjanya nampak sibuk merangkai tasbih dan gelang. Selama ini, selain tasbih, ia juga membuat gelang dengan berbagai model. Bahannya sama, yaitu kayu gaharu.
Tasbih kayu inilah yang berhasil menarik perhatian konsumen. Lambat laun, tasbih buatannya diminati. Cukup pesan di Jombang, oleh-oleh beribadah umrah atau haji, tidak perlu jauh-jauh membawa tasbih dan gelang dari tanah suci. Tak heran, permintaan tasbih dalam sebulan terakhir cukup banyak.
”Jadi tidak membuat tasbih saja, kami juga membuat gelang dan kalung,” katanya. Ia lantas menyampaikan proses pembuatan tasbih yang tidak rumit. Untuk memproduksi tasbih, ia cukup dibantu tiga pekerja. dengan toleransi waktu satu jam saja.
Awalnya, bongkahan kayu disortir sesuai kualitas, kemudian dipotong kecil menurut diameter gelang atau tasbih yang dibutuhkan. Setelah dipotong sesuai ukuran, butiran kayu tersebut lantas dicetak dengan mesin khusus menjadi bulat. "Setelah itu diamplas dengan mesin agar karakter dari serat gaharu keluar dan nampak kinclong," jelasnya.
Proses terakhir, barulah kayu gaharu itu dirangkai dengan benang menjadi tasbih, kalung atau gelang. Ia mengaku, usaha kerajinan kayu gaharu dirintis sejak 2011 silam. Hingga sekarang, permintaan produknya sudah tembus mancanegara. "Luar negri kita kirim ke Singapura, Malaysia, Jepang dan Arab Saudi," ujar Fatchur.
Tentu saja, hasil kerajinan yang diimpor harus memiliki kualitas super. Seperti kayu gaharu dari pohon berumur 100 tahun dan memiliki aromaterapi kuat. Mulai gaharu malino, gaharu membramo, super agarwood dan gaharu agarwood rare.
Facthur mengaku, permintaan tasbih dan gelang di tempatnya meningkat cukup banyak seiring dengan keberangkatan ibadah haji. Permintaan bisa bertambah dua kali lipat. “Hari biasa hanya sekitar 10 kodi sampai 15 kodi, sekarang bisa 30 kodi,” terangnya.
Namun pesanan kayu asal Kalimantan yang diterimanya terbatas. Bergantung ketersediaan bahan baku. Sebab, belakangan ini pengiriman kayu gaharu yang dipesan berkurang. Ketika beli lagi, kayu sulit didapatkan. Terutama kayu berkualitas super usia di atas 100 tahun. Dalam sekali kirim, biasanya satu truk engkel kayu. Tumpukan kayu itu habis dalam jangka waktu satu hingga dua bulan.
Meski begitu, harga jual tasbih tetap bervariasi mulai dari Rp 5 ribu sampai Rp 300 ribu per biji. Bergantung tingkat kerumitan saat pembuatan. “Kita jual secara online dan offline, termasuk ke gerai, toko serta kolektor tasbih,” pungkasnya. (yan/bin/riz) Editor : Achmad RW