Pagi itu, Syaifuddin dibantu dua orang lainnya terlihat sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Mereka hilir mudik dari belakang ke depan rumah sembari menenteng kulit kayu.
Kulit itu kemudian diletakkan di bawah tungku pengapian. Di belakang rumahnya di Dusun Candi RT 18 RW 04 merupakan tempat produksi cincau hitam atau lebih akrab disebut janggelan. Sudah puluhan tahun, ruangan khusus itu jadi tempat aktivitas Sayifudin, sapaan akrabnya bersama sang ayah Abdurrohim membuat janggelan. Meski ukuran ruangan dulu tak sebesar saat ini. ”Sejak 1987, yang mulai usaha ini bapak saya (Abdurrohim),” kata Syaifudin mengawali pembicaraan.
Syaifudin merupakan generasi kedua. Meski demikian, bapaknya saat ini tetap menemani mulai dari proses awal hingga akhir produksi. ”Tetap dibantu bapak, sama keluarga lainnya,” imbuh dia.
Dijelaskan, janggelan yang dia buat tak mengalami perubahan. Bahannya masih tetap sama. Meski ada resep rahasia yang tak disampaikan, proses pembuatannya seperti pembuatan janggelan pada umumnya. ”Daun janggelan setelah dijemur, kemudian direbus, lalu disaring diambil sarinya kemudian direbus lagi. Baru kemudian dicampur tepung terigu tergantung selera,” ujar lelaki berusia 33 tahun ini.
Setelah proses itu selesai lanjut dia, janggelan yang masih dalam keadaan cair dimasukkan ke dalam kotak blek kecil. Menunggu hampir 12 jam lebih, sebelum dipastikan kondisinya sudah kenyal. ”Proses pengapian dari awal sampai akhir atau sebelum janggelan dipotong itu butuh waktu lima jam. Terus didiamkan, hari berikutnya baru bisa dipotong,” terang Syaifudin.
Sejak pandemi Covid-19 atau pada 2020 lalu, dampaknya hingga kini masih terasa. Produksi janggelan miliknya ikut terimbas. Patokannya ketika Ramadan tiba, produksi yang sebelumnya bisa hingga 100 kotak blek, kini berkurang drastis. ”Seperti tahun ini sejak awal puasa sampai pertengahan, sehari produksi 35 blek. Itu pun kadang tergantung pesanan,” lanjut dia.
Satu blek atau kotak janggelan yang sudah jadi menurut dia, biasanya memiliki berat 17 kilogram. Satu bleknya dijual Rp 56.000. ”Tidak berani ubah harga, kemarin waktu harga tepung naik juga masih sama. Nggak berani naikan (harga),” tutur Syifudin.
Dia khawatir, produksi janggelan yang sejak puluhan tahun digeluti itu bakal terus meredup. Meski demikian, tahun kedua pandemi dia tetap berjibaku untuk bangkit. Produksi bisa kembali seperti dulu.
Menurut dia, puluhan tahun bisa bertahan, kini menjadi modal penting untuk tetap eksis dan bangkit. ”Ya mungkin karena korona, secara global kena dampaknya semua,” terang Syaifudin.
Diakui, sampai saat ini pemasaran janggelan buatannya tetap mengandalkan pelanggan dari Jombang dan sekitarnya. Terutama pelanggan yang berjualan di pasar tradisional. ”Memang agak susah, cari daun janggelannya saja ke Pacitan atau Trenggalek. Sementara jualnya masih di Jombang. Kadang ada dari Kediri dan Trenggalek, tapi tidak setiap hari, biasanya dua atau tiga hari pesan lalu diambil ke sini,” kata Syaifudin. Editor : Achmad RW