Di ruang tamu rumah Sugeng Riyadi, 50,di Desa Plumbon Gambang, terlihat onggokan puluhan kain warna-warni. Motifnya bermacam-macam. Mulai garis lurus, zig-zag, segi tiga, belah ketupat, lingkaran, bujur sangkar, motif parang, hingga motif sarung Bali. ’’Semua ini hasil tenunan manual, kita buat sendiri dari bahan benang,” terangnya.
Sugeng menjelaskan, rumahnya lebih banyak berfungsi sebagai galeri. Sejak tujuh tahun lalu, ia mempekerjakan puluhan orang di sekitar rumahnya sebagai penenun. Pekerjanya rata-rata ibu-ibu. ’’Ada 25 orang yang ikut kerja. Di Plumbon Gambang sini, Peterongan, Mojoagung sampai Purwoasri Kediri,” jelasnya.
Semua proses pembuatan kain dilakukan secara tradisional. Setiap lembar sarung dibuat menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dikirim Sugeng langsung ke para penenun. Untuk menghasilkan sebuah sarung goyor, setiap tukang tenun harus melalui proses yang rumit dan panjang. Mulai dari pewarnaan bahan dasar benang kapas putih menjadi benang dasar dan benang motif. Hingga menenun benang dengan teknik ikat menjadi kain sarung. ’’Biasanya setiap akhir pekan saya ambil di masing-masing penenun,’’ lanjutnya.
Kelebihan sarung tenun buatannya, warnanya yang indah serta tekstur kainnya yang lembut. Ketika dipakai rasanya lebih nyaman. Terasa lebih sejuk di kulit. ’’Saat musim panas terasa dingin, saat musim dingin terasa hangat. Juga tidak perlu disetrika,’’ paparnya.
Sarung buatan Sugeng sudah mulai merambah pasar internasional. Biasanya dikirim ke luar negeri melalui salah satu eksportir Surabaya. ’’Paling banyak dikirim ke Arab Saudi,’’ ujarnya. Harganya rata-rata Rp 500 ribu.
Kesulitan Cari Penenun Baru
MENJADI pengusaha tenun tradisional penuh tantangan. Salah satu hambatannya, minimnya ketersediaan tenaga kerja.
’’Yang paling susah cari penenunnya,’’ ucap Sugeng. Ini karena dia tidak pakai mesin otomatis. ’’Sarung tenun kita murni dikerjakan manusia,” ungkapnya.
Bapak tiga anak ini menyebut, hingga kini rata-rata penenun yang bekerja padanya, sudah berusia di atas 40 tahun. Para penenun ini, sangat membutuhkan pengganti. Namun mencari tenaga kerja baru tidaklah mudah.
Tak banyak anak muda yang tertarik untuk menekuni pekerjaan ini. Karena prosesnya yang sangat rumit. ’’Yang sudah pengalaman saja, hanya bisa membuat paling banyak tiga lembar setiap minggunya,” jelasnya.
Melatih pekerja hingga menjadi terampil juga tidak gampang. Butuh ketelitian dan kesabaran ekstra. ’’Melatih pekerja baru butuh proses lama dan belum tentu bisa,’’ bebernya.
Akibat keterbatasan itu, ia mengaku sering melepas pesanan besar. Karena kapasitas produksi miliknya masih terhitung kecil. ’’Misalnya ada pesanan 100 biji sebulan, saya bisanya paling mentok 50 buah,’’ tegasnya.
Editor : Rojiful Mamduh