Jejak dokumentasi lawas dari bioskop ini bisa dilacak melalui foto tahun 1948 koleksi Universitas Leiden Belanda. Dalam foto itu ditulis keterangan Bioskop Ploso. Lokasinya, berada tak jauh dari simpang tiga Ploso. Gedung besar dengan bangunan tinggi, tepat di tengah antara beberapa gedung tua lain.
Lujeng Rianto, 58, salah satu warga Desa Rejoagung, Kecamatan Ploso, sempat menjadi salah satu penggemar film di bioskop ini. Pria yang akrab di sapa Broto ini rutin mengunjungi bioskop pada tahun 1970-an. “Saat itu saya masih SD, usia 12 tahun, ingat sekali kalau ke bioskop harus curi-curi waktu,” ungkapnya.
Menurutnya, nama asli dari bioskop itu adalah Brantas Theatre. Namun banyak orang yang menyebut biskupan atau Biskup Ploso. Gedung bioskop itu milik pengusaha Tionghoa asal Ploso yang akrab disapa warga Liong. “Tapi untuk bioskopnya, punya warga keturunan India asal Mojokerto, Bang Alun. Jadi gedung itu disewa,” lanjut dia.
Ia pun menceritakan, bioskop itu masih menggunakan mesin pemutar jenis lama. Layar bioskop menggunakan tembok besar, film sendiri, diputar dengan pita kaset seluloid. “Pemutarnya kaset yang bundar seperti ada klise,” tambahnya. Sementara di dalam gedung, ada tempat duduk bertingkat yang menggambarkan kelas tiket. Tempat duduk masih berbentuk bangku kayu panjang.
Hampir setiap hari, sejumlah film mulai lokal, mandarin hingga India diputar. Di tahun 1970-an, tiket masuk hanya Rp 25. “Saya ingat sekali kalau pas memutar film india, pasti ramai banget bioskopnya, warga sekampung pasti datang, sambal ngajak anak cucu,” kenang dia.
Namun, tak lama, bioskop tutup. Sekitar 1975, gedung tak lagi digunakan dan terbengkalai. “Entah karena mulai sepi penggemar atau memang kontraknya tidak diperpanjang, yang jelas tutup dan tidak beroperasi lagi,” tambahnya.
Hingga 2020, gedung ini dirobohkan karena menjadi salah satu gedung yang terdampak pembangunan jembatan baru Ploso. Kini sisa gedung masih bisa ditemukan meski berubah total. “Lokasinya kalau sekarang di samping SPBU mini,” pungkasnya.