Lokasi bengkelnya berada tepat di pinggir jalan utama Desa Bongkot. Tidak ada penanda di bengkel ini. Tempatnya di sebuah rumah kosong di sebelah rumah Hilmi. Bengkelnya menempati lorong samping rumah kosong itu.
Di dalam lorong itu, Hilmi sibuk dengan rangka sepeda tua. Rangka berbentuk ramping itu, ia perbaiki dan cat. Di sampingnya, terlihat beberapa sepeda ramping lain yang sudah jadi. ’’Ini punya orang semua, rata-rata sepeda tahun 1970 sampai 1980,” ucapnya.
Hilmi aktif membuka bengkel untuk sepeda balap tua sejak 2019. Berawal dari hobinya memodifikasi sepeda motor hingga sepeda angin. ’’Awalnya sepeda baru dimodifikasi, tapi lama-lama mulai datang pesanan restorasi sepeda tua atau roadbike vintage, akhirnya keterusan,” bebernya.
Seperti namanya yakni restorasi, seluruh sepeda yang datang ke bengkelnya adalah sepeda yang sudah lama tak terpakai pemiliknya. Sepeda rusak ini, biasanya diminta untuk dikembalikan seperti sedia kala. Atau agar tampak baru kembali. ’’Saya kerjakan mulai pengecatan, ganti sparepart, sekaligus dimodel sesuai permintaan,” imbuhnya.
Mulai sepeda jenis hordok, mountain bike (MTB), sepeda balap lawas (roadbike vintage), atau sepeda mini, biasa dia kerjakan. ’’Yang paling tua, sepeda hordok tahun 1940-an,’’ ucapnya. Yang paling umum dia garap jenis sepeda balap.
Proses dan pengerjaannya lebih banyak dia kerjakan sendiri. Dia mengaku lebih puas jika hasil karyanya dirasakan puas juga oleh pelanggannya. ’’Kalau ada teman yang nongkrong di sini, biasanya ikut membantu,” lontarnya.
Setiap sepeda memiliki masa pengerjaan yang berbeda-beda. Tergantung dari permintaan pelanggannya. Jika perubahannya tak banyak, atau sekadar memberi sentuhan cat saja, prosesnya bisa selesai satu sampai dua minggu. Berbeda cerita ketika pelanggan minta untuk melengkapi seluruh asesoris sepeda dan membuatnya tampak original seperti aslinya.
’’Sempat ada yang sampai 1,5 tahun baru jadi, karena harus menggenapi sparepartnya,’’ terangnya. Harga yang dia patok, mulai Rp 250 ribu sampai ada yang jutaan. ’’Tergantung pengerjaan,” ujarnya.
Beli Sparepart dari Singapura
Merestorasi sepeda lama, disebut Hilmi tak melulu melakukan pekerjaan restorasinya saja. Tantangan yang lebih menarik adalah berburu sparepartnya.
’’Karena tidak semua sparepart sepeda tua masih diproduksi,’’ ucapnya. Kalaupun ada, kadang harganya tidak murah. ’’Mendapatkannya juga susah,’’ ungkapnya.
Dia sering menghadapi tantangan ini. Pelanggan yang datang, terkadang hanya bermodal frame atau rangka bodi sepeda saja. Si pelanggan minta, Hilmi mengembalikan fungsi dan bentuknya seperti sedia kala. ’’Jadi kita harus bisa cari sparepart originalnya. Kita juga harus komunikasi sama yang punya, soal berapa biaya yang dia siapkan,” tambahnya.
Ia sempat harus berburu sparepart sepeda hingga luar negeri. Sempat harus mendatangkan salah satu sparepart sepeda tua dari Singapura. Karena stoknya yang sudah tak ditemukan di Indonesia.
’’Saya tidak langsung ke Singapura, beli lewat marketplace,’’ lontarnya. Itu jadi pengalaman berharga baginya.
Hal-hal seperti itu membuat harga yang harus dibayar pemilik sepeda jadi membengkak. Hilmi pernah merestorasi sebuah roadbike hingga nilainya Rp 5,5 juta karena kesulitan seperti itu. ’’Karena hobi dan pemiliknya setuju, ya kita jalan,” tegasnya.