Dari data yang ada, bangunan dikerjakan secara bersamaan dengan bangunan rumah dinas dan kantor Asisten Residen (AR) tahun 1881 lampau. Hal ini bisa dilihat dalam pengumuman lelang yang terpasang di koran Soerabaijasch Handelsblad edisi 1 dan 3 Agustus 1881.
Dalam pengumuman itu tertera jika pembangunan gevangenis atau penjara ini dianggarkan sebesar 52.932,- gulden. Penjara awalnya didesain menampung 130 tahanan. “Artikel ini saya temukan diunggah di lamane delpher.nl,” kata Tjahjana Indra Kusuma salah satu penelusur sejarah Jombang.
Dia menjelaskan, rumah dan kantor Asisten Residen dibangun di Aloon-aloonstraat (sekarang SMAN 1 Jombang Jl RAA Soeroadiningrat/Jl Diponegoro). Sedangkan gedung penjara didirikan di Hereenstraat (sekarang Jl KH Wahid Hasyim), tidak jauh dari jalur rel kereta api. Letak penjara ini melengkapi tata kota baru di sekitar Alun alun Jombang.
Selain penjara, pada perkembangan berikutnya, ada gudang penyimpanan garam, pendopo bupati, masjid jamik dan pasar tradisional. Bangunan penjara juga sempat jadi saksi aksi bumi hangus yang dilakukan pejuang republik tahun 1948. Sejumlah bangunan kala itu dihancurkan pejuang untuk menghindari diduduki kembali militer Belanda yang datang ke Indonesia.
Dalam foto lama, terlihat lima bangunan utama membujur arah ke timur-barat. Kemudian enam bangunan besar dan kecil membujur arah utara-selatan di depan dan di belakang.
Sebagian besar kompleks penjara Jombang selamat dari aksi bumi hangus, di masa revolusi yang dilakukan para pejuang akhir Desember 1948. Berbeda dengan pegadaian, stasiun kereta api dan pendopo bupati yang hancur dibakar.
Menurut Mahendra Sulaksana Kepala Lapas Kelas IIb Jombang, bangunan lapas memang sudah ada sejak era penjajahan Belanda. Dari data yang dimiliki, luas lahan lapas 8.360 meter persegi. “Dan luasannya tetap sejak dulu tidak berubah,” katanya.
Renovasi pada bangunan ini sempat dilakukan 2002 silam. Saat itu, seluruh bagian lapas sempat diilakukan penguatan. “Jadi secara struktur, sebenarnya tidak banyak berubah, karena lebih banyak ke penguatan. Misal poles tembok dan penggantian atap,” tambahnya.
Hal itu membuat suasana kuno di lapas ini masih sangat terlihat. Seperti bentuk jendela dan pintu sel tahanan yang masih menggunakan pintu besi berlapis pintu kayu. “Mungkin tinggal sumur dan lumpang di belakang itu saja yang masih asli sejak dulu,” lontar dia.
Mahendra juga menjelaskan, meski awalnya dibangun dengan kapasitas 130 tahanan, jumlah kapasitas telah bertambah menjadi 200 orang setelah beberapa kali renovasi. “Kapasitas 200 orang, tapi isinya 900 orang, jadi memang over kapasitas,” pungkasnya.