’’Awal pandemi Covid-19 harga tikar pandan hancur, dan warga sulit menjual. Akhirnya kita buat kreasi produk,” ungkapnya.
Saat itu, tikar pandan dua lapis yang biasanya Rp 50 ribu anjlok menjadi Rp 35 ribu. ’’Itupun sangat sulit pasarnya karena permintaan yang biasanya setiap hari ada, jadi berkurang jauh,” lanjutnya.
Hal itu membuatnya tergerak untuk mencoba bekerjasama dengan tetangganya. Guna memproduksi tikar pandan jadi kerajinan tangan dengan bentuk lain. ’’Awalnya dikreasikan jadi sandal hotel. Kemudian ada ide baru untuk tas, terus kotak hantaran sampai yang terakhir bantal,” ungkapnya.
Warga bertugas memproduksi. Sementara ia, bertugas untuk memasarkan hasil produksinya. ’’Dijualnya rata-rata via online,” lontarnya. Ia pun tak mematok harga mahal. Harganya mulai Rp 7 ribu hingga Rp 25 ribu setiap produk.
’’Paling murah tas untuk hajatan. Yang Rp 25 ribu itu bantal,” lontar guru SMKN Kabuh ini.
Hasilnya pun menggembirakan. Dengan bentuk kerajinan yang lebih menarik, pasar meningkat drastis. Jumlah warga yang ikut memproduksi kerajinan juga naik.
Februari kemarin saja, ia mampu mengajak seratus warga memproduksi masal tas dari anyaman pandan. Hariannya ada sekitar delapan sampai 10 orang yang produksi. ’’Pas ada pesanan lima ribu tas, sampai seratus warga yang ikut bikin,” terangnya.
Karena dipasarkan melalui online, jangkauannya pun sangat luas. Bisa menembus Malang, Sidoarjo bahkan hotel di Surabaya. ’’Sudah sampai Kalimantan dan Papua juga,’’ bebernya.
Produknya juga tampil di salah satu kios resmi di sirkuit Mandalika NTB.