Tikar, Tas hingga Bantal Anyaman Pandan

M Nasikhuddin • Dipublikasikan Selasa, 8 Maret 2022 | 00:11 WIB
Photo
Photo
Desa Munungkerep, Kecamatan Kabuh terkenal dengan kerajinan anyaman pandan. Produknya tikar, tas hingga bantal. Seperti yang dilakukan warga di RT 03 RW 07, Dusun Karanggebang.

Hampir seluruh rumah di lingkungan ini memproduksi anyaman pandan. Seperti yang dilakukan pasutri Sani, 60 dan Sonto, 65. Mereka terlihat sibuk membersihkan pandan yang baru dipetik dari belakang rumah. ’’Ini dibersihkan durinya, biar bisa dibentuk,” ungkap Sonto.

Setelah bersih dari duri, Sani bertugas memotong lembaran pandan besar menjadi lebih kecil. Setelah itu, pandan dijemur hingga layu. ’’Kalau sudah layu, baru nanti bisa dianyam jadi lembaran, kemudian dijemur lagi,” terangnya.

Di desa ini, anyaman pandan tak melulu dijual dalam bentuk tikar. Warga mulai mengembangkan warisan nenek moyang. Seperti yang dilakukan Samini, 57. Ia membuat anyaman dengan bentuk menyerupai kantong, tidak berbentuk lembaran besar seperti tikar umumnya. ’’Ini mau dibuat tas,” ujar Samini.

Dari anyaman berbentuk kantong kotak itu, ia melipat dan menjahitnya di bagian samping. Guna mempercantik, tas diberi pegangan yang terbuat dari bahan alami. ’’Bagian pegangannya dari pelepah pisang yang dikeringkan,” jelasnya.

Lain halnya dengan Suwarti, 50. Ia memotong panjang lembaran tikar pandan itu menjadi beberapa bagian. Setelah itu, potongan tikar ditempel di beberapa media kertas aneka bentuk. ’’Ini untuk kotak hantaran, jadinya bisa lebih banyak,” ungkapnya.

Kreasi lain dilakukan Yuliani, 28. Lembaran tikar yang sudah dianyam tak langsung dijual. Ia membentuknya menjadi bantal unik. Caranya, dengan memotong empat bagian tikar lalu dilipat dan dijahit. Proses ini, seluruhnya juga dilakukan dengan tangan.

’’Nanti diisi dakron untuk isinya, biasanya satu lembar tikar bisa jadi sampai empat bantal,” bebernya.

Sejak dua tahun terakhir warga mulai mengkreasikan anyaman pandan. ’’Warga sudah puluhan tahun bikin anyaman pandan. Dulu cuma jadi tikar saja, sekarang ada yang jadi sandal, tas, kotak hantaran dan bantal seperti saya,” ucap Yuliani.

Dengan cara itu, tikar pandan olahan warga jadi bernilai jual lebih tinggi. Biasanya, satu tikar dijual Rp 15 ribu. Dalam bentuk lain, harganya bisa lebih tinggi. ’’Kalau sudah jadi bantal bisa laku Rp 25 ribu per biji,” lontarnya.

Pemasarannya, biasanya dikumpulkan di satu pengepul untuk dijual bersama dengan sistem online. ’’Ada yang mengkoordinir, jadi nanti dijual bersama, tapi untungnya buat warga,” paparnya.

 

Photo
Photo
Editor : M Nasikhuddin
Bantal Anyaman Pandan tas Tikar