BANDUNG, RadarJombang.id – Berawal dari dapur rumah saat pandemi Covid-19, usaha camilan sehat milik Lince Sulastri kini berkembang hingga bersiap menembus pasar internasional.
Melalui merek Sahate, pelaku UMKM asal Kota Bandung itu sukses mengembangkan keripik beras dan aneka kue kering gluten-free yang kini diminati pasar.
Terutama, setelah mendapat pendampingan dari ekosistem pemberdayaan UMKM BRI.
Baca Juga: Hari Mangrove Sedunia 2026, BRI Peduli Tanam 24 Ribu Mangrove untuk Pulihkan Pesisir
Lince merintis usahanya pada 2022, ketika kesadaran masyarakat terhadap pola hidup sehat mulai meningkat.
Ia melihat peluang menghadirkan camilan berbahan dasar beras yang rendah gula, bebas gluten, namun tetap memiliki cita rasa gurih dan renyah.
Usaha yang semula dijalankan dari dapur rumah perlahan berkembang. Pelanggan terus bertambah dan pesanan semakin meningkat.
Namun, Lince menyadari menjaga kualitas produk saja belum cukup untuk membawa usahanya naik kelas.
Karena itu, pada 2024 ia bergabung dengan LinkUMKM BRI untuk memperluas jaringan sekaligus meningkatkan kapasitas usahanya.
"Saya mulai mengenal LinkUMKM BRI pada 2024 untuk menambah jaringan pemasaran sekaligus belajar mengembangkan usaha," ujar Lince.
Melalui berbagai pelatihan dan pendampingan, Lince mengaku memperoleh banyak wawasan baru, mulai dari peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, hingga membangun jejaring dengan sesama pelaku UMKM.
Selain itu, ia juga memanfaatkan layanan digital BRI untuk mendukung operasional usaha sehari-hari.
"Saya menggunakan QRIS BRI untuk memudahkan transaksi karena tidak perlu lagi repot mencari uang kembalian. Harapan saya, usaha ini bisa memberikan dampak ekonomi bagi keluarga dan masyarakat sekitar serta semakin dikenal oleh masyarakat luas," katanya.
Pendampingan tersebut mulai membuahkan hasil. Produk keripik beras Sahate kini menjadi produk unggulan yang dipasarkan melalui marketplace, pameran, hingga kerja sama dengan berbagai mitra di sejumlah daerah.
Tak hanya itu, Sahate juga berhasil lolos proses kurasi untuk membuka peluang pemasaran ke Denmark dan Hong Kong.
Saat ini, Lince tengah mempersiapkan sertifikasi Hazard Analysis and Critical Control Points (HACCP) sebagai syarat memperluas pasar ekspor.
Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, perjalanan Sahate menjadi contoh bagaimana pelaku UMKM mampu berkembang ketika mendapatkan akses pembelajaran dan pendampingan yang tepat.
"Perjalanan Sahate menunjukkan bahwa dengan ruang untuk belajar, pengusaha UMKM Indonesia mampu bertahan sekaligus terus berkembang. Melalui LinkUMKM, BRI ingin membuka lebih banyak kesempatan agar pelaku usaha dapat membawa produknya melangkah lebih jauh dan menjangkau pasar yang lebih luas," ujar Dhanny. (*/riz)
Editor : Achmad RW