JOMBANG – Jalan hidup Ranitara Putri Zaeny mengajarkan, kegagalan bukan akhir dari sebuah impian. Perempuan yang akrab disapa Tara itu harus menelan empat kali kegagalan saat mengikuti seleksi maskapai penerbangan di Indonesia. Namun, kegigihannya justru membawanya terbang lebih jauh.
Sejak Januari 2025, warga Kecamatan Ngoro Jombang kelahiran Lumajang, 27 Januari 2002, itu resmi menjadi pramugari kelas ekonomi di Saudia Airlines, maskapai nasional Arab Saudi.
Tara kini tinggal di Saudia City Compound, Jeddah, Arab Saudi. Momen keberangkatannya pun menjadi kenangan yang tak terlupakan. Ia berangkat pada malam 31 Desember 2024 dan menyambut pergantian tahun di atas langit menuju negara barunya.
’’Fun fact-nya, saya berangkat malam 31 Desember 2024, jadi benar-benar merayakan dan menyambut tahun baru 2025 di langit, di negara baru,’’ ujar lulusan SMAN 3 Jombang ini.
Perjalanan menuju pekerjaannya saat ini tidaklah singkat. Tara sempat mengawali pendidikan di SD Inpres Tamamaung 2 Makassar. Kemudian melanjutkan ke SDN Ngoro 2 dan SMPN 1 Ngoro.
Lulus SMA pada 2020, pandemi Covid-19 membuat rencananya melanjutkan kuliah harus tertunda akibat kondisi ekonomi keluarga. Ia kemudian memilih belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris, Pare, Kediri.
Baca Juga: Jelang Pulang ke Tanah Air, Satu Lagi Jemaah Haji Jombang Meninggal di Arab Saudi
Beberapa bulan kemudian, Tara justru dipercaya menjadi pengajar Bahasa Inggris. Sembari mengajar, ia mencoba berbagai peluang karier. Mulai mengikuti seleksi Politeknik Ilmu Pemasyarakatan (Poltekip), melamar menjadi pramugari Lion Group, hingga bekerja sebagai TikTok Specialist di Global MUN.
Pada 2021, Tara merantau ke Surabaya untuk mengejar peluang yang lebih luas. Di Kota Pahlawan, ia bekerja sebagai model freelance, master of ceremony (MC), serta mengikuti sejumlah ajang pemilihan. Prestasi terbaiknya diraih saat berhasil menyabet gelar Juara 1 Putri Hutan Indonesia 2022.
Gelar tersebut membukakan banyak kesempatan profesional. Ia pernah bekerja sama dengan Dinas Kehutanan Jawa Timur, Perhutani, Pelindo, Bank BCA, hingga terlibat dalam kegiatan keprotokolan Gubernur Jawa Timur.
Pada 2023 Tara bergabung dengan Ethnic Indonesia sebagai TikTok Live Streamer. Pekerjaan itu menuntutnya mempelajari sejarah budaya Nusantara, terutama keris dan senjata tradisional Indonesia. Di sela aktivitas tersebut, ia juga aktif sebagai content creator dan mengerjakan berbagai proyek promosi merek.
Namun impian masa kecil menjadi pramugari tak pernah padam. Ia kembali mencoba seleksi Lion Group hingga tiga kali, tetapi belum berhasil.
’’Jujur, bukan saya yang memilih Saudia, tetapi Saudia yang memilih saya,’’ katanya.
Saat melihat informasi rekrutmen Saudia Airlines melalui Instagram, Tara kembali mencoba tanpa ekspektasi tinggi. Berbeda dengan pengalaman sebelumnya, sekali mengikuti seleksi, ia langsung diterima.
’’Bagi saya, bergabung dengan Saudia bukan hanya tentang bekerja di maskapai internasional, tetapi juga kesempatan berkembang, mengenal budaya baru, serta membawa pengalaman kerja di lingkungan yang lebih luas,’’ ungkapnya.
Sebagai pramugari kelas ekonomi, Tara mengaku pekerjaannya bukan sekadar menyajikan makanan atau memastikan keselamatan penumpang selama penerbangan. Banyak penerbangannya mengangkut jamaah yang hendak maupun selesai menunaikan ibadah di Tanah Suci.
’’Melihat kebahagiaan, rasa syukur, bahkan air mata mereka menjadi pengingat bahwa pekerjaan saya adalah bagian kecil dari perjalanan yang sangat berarti bagi banyak orang,’’ tuturnya.
Baca Juga: Pemuda Asal Jombang Ini Sukses Raih S2 Al-Azhar Mesir, Pernah Dapat Beasiswa Kuwait
Menurutnya, Arab Saudi mengajarkan banyak hal tentang kesabaran, penghormatan terhadap sesama, dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan multikultural. Setiap hari ia berinteraksi dengan penumpang maupun kru dari berbagai negara.
Meski demikian, Tara mengakui tetap ada tantangan selama tinggal di luar negeri. Bukan karena jauh dari keluarga, melainkan rasa rindu terhadap Indonesia. ’’Saya sesekali merindukan makanan Indonesia, suasana hujan, keramahan yang terasa akrab, dan berkumpul santai bersama teman. Tapi rasa rindu itu justru membuat saya belajar lebih bersyukur,’’ urainya.
Proses adaptasi di Arab Saudi juga menjadi pengalaman berharga. Ia mulai mempelajari Bahasa Arab dasar. Menyesuaikan diri dengan budaya setempat. Termasuk mengenakan abaya saat berada di luar rumah sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai-nilai lokal.
Keberadaan komunitas Indonesia di Jeddah turut membantunya melewati masa-masa awal tinggal di negeri orang.
’’Saya tidak pernah benar-benar merasa sendirian. Teman-teman Indonesia di sana sudah seperti saudari bagi saya. Kami saling menguatkan dan berbagi, bahkan sering memasakkan makanan Indonesia,’’ ungkapnya.
Culture shock terbesar justru datang dari kehidupan sehari-hari. Tara terkejut melihat kehidupan malam di Jeddah yang sangat ramai hingga dini hari. Pusat perbelanjaan baru ramai pada malam hari. Akhir pekan berlangsung pada Jumat dan Sabtu.
Ia juga mengaku awalnya mengira masyarakat Arab Saudi cenderung homogen. Namun kenyataannya, ia justru hidup di lingkungan yang sangat internasional dengan warga dari Filipina, India, Pakistan, Bangladesh, dan berbagai negara lainnya.
Bagi Tara, pengalaman tersebut mengajarkan, adaptasi bukan sekadar menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Tetapi juga membuka diri terhadap cara hidup yang berbeda.
Baca Juga: Pemkab Berikan Beasiswa S1 untuk 30 Siswa Miskin di Jombang, Ini Syaratnya
Kepada generasi muda Indonesia yang ingin mengikuti jejaknya bekerja di luar negeri, Tara berpesan agar tidak mudah menyerah karena proses seleksinya memang panjang. Tahapannya dimulai dari pengiriman CV, pemeriksaan fisik, wawancara Bahasa Inggris, tes kesehatan, tes Bahasa Inggris daring, hingga final interview bersama pihak Saudia selama tiga hari.
Setelah dinyatakan lolos, calon kru masih harus menjalani tes kesehatan lanjutan dan psikotes. Juga melengkapi dokumen pekerja migran Indonesia (PMI).
Mengikuti Orientasi Pra Pemberangkatan (OPP). Kemudian kembali menjalani pemeriksaan kesehatan dan pelatihan setibanya di Jeddah sebelum resmi bertugas.
’’Prosesnya cukup panjang, tapi menurut saya semuanya sebanding. Yang penting dipersiapkan dari awal dan dijalani satu per satu. Insya Allah kalau memang rezeki, pasti ada jalannya,’’ tegasnya. (wen/jif)
Editor : Anggi Fridianto