RadarJombang.id - Terpilihnya kembali Donald Trump sebagai Presiden AS ke-47, menimbulkan pertanyaan baru khususnya bagi warga Palestina dan Israel.
Masyarakat dari dua negara tersebut seakan sedang memperhitungkan nasib mereka selanjutnya begitu Trump kembali duduk di kursi kepresidenan.
Pihak Palestina merasa gusar dan takut jika ingin berharap Trump akan ambil alih menyelesaikan perang sedangkan pihak Israel khawatir apabila Trump akan menghentikan dukungannya mengakomodasi keperluan tentara Israel.
Dalam pidato kemenangannya, Trump sempat menuturkan bahwa ia juga memperoleh dukungan dari kaum Muslim-Amerika.
Trump lantas menegaskan, ia akan berupaya menyangkal asumsi masyarakat dengan menghentikan perang bukan semakin memperparahnya.
Ucapan Trump dibalas oleh pemimpin Hamaz untuk segera mewujudkan janjinya itu sedangkan pemimpin Hizbullah di Lebanon yang menjadi target sasaran Israel menuturkan baik Kamala maupun Trump tidak akan memberikan pengaruh pada genjatan senjata yang diimpikan.
Ketika menjabat sebagai presiden, Trump diketahui sangat pro dengan Israel.
Trump gemar menjalin kerja sama dengan perdana menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Sebagian besar komoditas perang tentara Israel didapatkan dari Amerika Serikat.
Bahkan Trump dipercaya melatarbelakangi pemindahan ibu kota Palestina ke Yerusalem yang selama ini menjadi wilayah perebutan dengan Palestina.
Hal ini lah yang menjadikan warga Gaza Palestina tetap khawatir dengan kebijakan pemerintahan Trump.
Salah seorang pengungsi Gaza asal Jabalia bernama Mahmoud Al Jadba memberikan pernyataan terhadap pidato kemenangan Trump.
Ia meminta tolong orang yang berkuasa dan kuat seperti Trump untuk menghentikan peperangan dan menciptakan perdamaian.
Mahmoud berharap Trump menemukan solusi atas kondisi masyarakat Gaza yang harus mengungsi dan terancam dibunuh.
“Kami mengungsi, kami dibunuh, tidak ada yang tersisa bagi kami, kami menginginkan perdamaian. Saya berharap Trump menemukan solusi, kami membutuhkan seseorang yang kuat seperti Trump untuk mengakhiri perang dan menyelamatkan kami”, tuturnya.
Pengungsi bernama Mohammed Barghouth, tetap memberikan harapan bahwa Trump akan memenuhi janjinya kepada Muslim-Amerika untuk menghentikan perang Gaza.
Berlainan dengan itu, pengungsi asal Rafah, Muhammad Miqdad memberikan respon pesimis bahwa Trump akan meringankan beban peperangan mereka sebaliknya Trump akan menambah dukungan kepada Israel. Ia juga menyebut Trump sebagai sosok yang fanatik.
“Sebaliknya, pemilu ini akan menambah penderitaan rakyat Palestina, menambah luasnya pengepungan, dan juga menambah dukungan Israel. Kita tahu Trump adalah orang yang fanatik, fanatik, dan ekstrimis,” tuturnya (6/11/2024).
Sementara itu, dilansir dari Reuters, mayoritas warga Israel memang menganggap positif terpilihnya Trump menjadi presiden. Israel menganggap kemenangan ini juga bentuk kemenangan untuk negaranya.
Namun, tidak sedikit pula yang berpikir Trump bisa jadi akan mengubah arah kebijakannya. Sebab sampai sekarang, Trump belum memberikan pernyataan lanjutan.
“Trump biasanya baik bagi Israel, tapi saya pikir dia tidak bisa diprediksi. Saya tidak tahu apakah kita bisa percaya. Jadi, saya khawatir karena dia bisa saja tiba-tiba mengubah kebijakannya,” tutur Helen Eisenberg, salah satu penduduk Yerusalem. (Rediva Novalisty)
Editor : Achmad RW