RadarJombang.id - Prima Nur Hidayati Putri, gadis asal Desa Ngudirejo, Kecamatan Diwek Jombang kini patut berbangga.
Untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Korea Selatan, ia harus mengalami tiga kali kegagalan.
Kini ia tercatat sebagai mahasiswa Andong National University jurusan Teknologi Pendidikan.
”Empat tahun berturut-turut saya mencoba untuk dapat beasiswa ini, dan alhamdulillah baru dapat di percobaan keempat,” kata Prima.
Prima mendapatkan beasiswa Global Korea Scholarship - Graduate (GKS-G) 2024.
Prima sudah lulus dari Univesitas Negeri Surabaya 2019 lalu pada jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan.
Minimnya lapangan pekerjaan yang linier dengan jurusannya, membuatnya menganggur selama lebih dari satu tahun.
Prima baru terfikirkan untuk melanjutkan kuliah S2 dengan beasiswa. ”Karena dulu saya saat S1 juga beasiswa Bidikmisi. Dari situ saya ingin mendapatkan beasiswa lagi, dengan target lebih tinggi, di luar negeri dan fully funded,” katanya.
Prima yang memiliki tekad dan prinsip yang kuat banyak disepelekan orang-orang.
”Bagi saya itu tidak penting, karena yang terpenting adalah ridho orang tua saya, apalagi ibu sangat support,” ungkap putri pasangan Imam Sya'ronni dan Zuliani tersebut.
Prima memilih Korea karena ia suka dengan drama Korea dan KPOP (BTS). Tidak hanya itu, ia juga terkesan dengan sistem pendidikan di Korea Selatan.
Upaya pertamanya dilakukan dengan mencari informasi beasiswa korea di Google.
Banyak beasiswa yang ditawarkan, dan ia memilih GKS karena menawarkan beasiswa penuh, mulai dari uang kuliah, tiket pesawat, juga uang bulanan.
”Apalagi GKS tidak membatasi kita harus mengambil jurusan apa,” jelasnya.
Setelah dapat, ia kemudian mencari informasi persyaratan, bergabung di grup-grup telegram untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya.
Ikut mentoring awardee GKS yang membahas tentang cara pembuatan essay dan outstanding yang menarik untuk dibaca.
”Termasuk research kampus yang kurikulumnya, professor yang ada kaitannya dengan penelitianku nanti, dan lain sebagainya,” kata alumnus MI Tarbiyatul Aulad Gedangan.
Yang tersulit menurutnya adalah membuat essay. ”Apalagi saya sudah tiga kali gagal, jadi percobaan terakhir ini saya betul-betul improve kemampuan dalam diri saya untuk memperbaiki essay dan mambuat essay saya lebih berbobot,” jelas alumnus SMA Negeri 1 Jombang tersebut.
Upaya lainnya juga dilakukan, yaitu bekerja sebagai instruktur Bahasa Inggris di salah satu bimbingan belajar terbesar di Korea Selatan dengan cabang yang ada di Indonesia.
Ikut tes kemamuan berbahasa Inggris TOEIC dan mendapatkan skor 865, ikut berbagai volunteer dan seminar permasalahan pendidikan di UNICEF.
”Itu bagian dari upaya yang saya ambil dan mengantarkan saya akhirnya menjadi awardee GKS G 2024 di percobaan keempat,” jelasnya.
Karena di Korea tempatnya tinggal (Asrama kampus Andong National University) belum semua orang menguasai bahasa Inggris, sehingga Prima yang harus menyesuaikan diri untuk belajar bahasa Korea.
Merasakan belajar di Korea Selatan, ia mengaku sangat senang, meski harus beradaptasi dengan bahasa, budaya, bertemu dengan banyak teman baru dari seluruh dunia.
Ia juga harus belajar berinteraksi dengan warga lokal, dan yang paling menyenangkan baginya adalah ketika mengikuti kelas bahasa Korea yang seluruh aktivitasnya menggunakan bahasa Korea.
Baca Juga: 19 Tahun di mesir, Warga Jombang ini Ungkap Organisasi yang Bantu Ia Tetap Survive
”Namun dengan suasana yang berbeda, lingkungan yang berbeda menjadi kesempatan yang tidak semua orang bisa dapatkan,” ungkap alumnus SMPN 1 Diwek tersebut.
Tinggal di lingkungan yang minoritas muslim, banyak orang yang heran, ketika melihat Prima mengenakan pakaian tertutup dan menutup rambut ketika sedang musim panas, di mana warga lokal mengenakan pakaian pendek.
Culture shock lainnya adalah, dengan kebiasaan ontime. Bahkan dalam kelas, 10 menit sebelum kelas dimulai dosen sudah berada dalam kelas.
”Alhamdulillah saya bisa menyesuaikan, dan tidak pernah terlambat,” ungkap gadis kelahiran 9 November 1998 tersebut.
Di Andong, ia juga lebih senang masak sendiri. Itu karena Andong merupakan kota kecil yang mayoritas adalah nonmuslim, sehingga jarang ada penjual makanan halal.
Jika Pendidikan S2-nya selesai nanti, ia ingin tetap menetap selama 10 tahun di Korea Selatan, bekerja sebagai instructional designer di kantor pusat Eye Level Korea Selatan.
Baru kemudian pulang ke Indonesia, dan bekerja sebagai professional instructional designer di Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI. ”Mudah-mudahan cita-cita saya tersebut bisa tercapai,” pungkasnya. (wen/naz)
Editor : Achmad RW