Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Gadis Jombang yang Dapat Beasiswa ke Inggris untuk Dalami Ilmu Komunikasi 

Wenny Rosalina • Sabtu, 18 Mei 2024 | 17:37 WIB
Ashlaha Baladina Zaimuddin, gadis Jombang yang kini tengah menuntaskan pendidikannya di Inggris
Ashlaha Baladina Zaimuddin, gadis Jombang yang kini tengah menuntaskan pendidikannya di Inggris

RadarJombang.id – Impian Ashlaha Baladina Zaimuddin untuk kuliah di Eropa tercapai.

Itu setelah ia mendapatkan beasiswa untuk kuliah S2 di University of Leeds, Inggris mengambil konsentrasi Communication and Media.

”Saya sejak kecil sudah bercita-cita sekolah di Inggris, suka juga beli alat tulis atau buku yang bergambar bangunan Inggris dan Eropa,” ungkapnya.

Dena, sapaan akrabnya, memulai pendidikannya di SD Plus Darul Ulum Jombang lulus tahun 2008, ia kemudian melanjutkan ke SMPN 3 Peterongan lulus 2014, setelah itu ke MAN 1 Kota Malang dan lulus tahun 2017.

Setelah itu, ia lanjut ke Universitas Brawijaya Malang, jurusan Ilmu Komunikasi kelas internasional, hingga 2022.

Ketertarikannya pada Inggris sudah ada sejak masih duduk di bangku SD.

Mulai dari koleksi alat tulis bernuansa Inggris dan Eropa, hingga mencari banyak hal tentang negara tersebut.

”Semakin dewasa, saya semakin yakin untuk melanjutkan studi di sana,” jelas gadis yang tinggal di Ponpes Darul Ulum Asrama 10 Hurun Inn Rejoso Peterongan.

Apalagi Inggris merupakan salah satu negara dengan jumlah mahasiswa internasional terbanyak di dunia dengan universitas-universitas terbaik dalam berbagai bidang, khususnya bidang ilmu komunikasi yang ia geluti.

Ia kuliah di University of Leeds setelah mendapat beasiswa dari Kemdikbudristek  program Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) melalui skema Beasiswa Indonesia Maju (BIM).

”Alhamdulillah saya bisa mendaftar beasiswa tersebut berkat prestasi yang pernah saya raih ketika kuliah S1, jadi persyaratan untuk bisa mendaftar melalui skema BIM memang harus memiliki minimal 1 prestasi dalam perlombaan nasional atau internasional,” jelas putri pasangan Zaimuddin Wijaya As’ad dan Umy Hasunah tersebut.

Baca Juga: Begini Cerita Seru Muhlashon Jalaluddin, Warga Jombang yang 33 Tahun Tinggal di Mesir

Ia semakin bersyukur, karena jurusan dan universitas yang diinginkan masuk dalam daftar universitas yang di-support beasiswa tersdebut.

Sebelum mendaftar di BPI, ia sempat mendaftar beasiswa LPDP, sayangnya tidak lolos.

Selang dua bulan setelah daftar LPDP, ia mencoba mendaftar BPI dan alhamdulillah diterima dalam sekali coba.

"Selama proses mendaftar beasiswa, saya juga sedang bekerja sebagai kepala bidang hubungan masyarakat (Humas) di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang,” ungkap wanita yang gemar membaca ini.

Menurutnya, keberhasilan yang ia dapatkan sekarang tak lepas dari support orang-orang sekitar, utamanya orang tua.

Menurut Dena, orang tuanya memiliki andil yang besar dalam keberhasilannya meraih beasiswa.

Selain dukungan dan doa, selama proses tersebut Dena selalu melibatkan kedua orang tuanya dalam berdiskusi.

Tumbuh di lingkungan yang menjunjung tinggi pendidikan dan nilai-nilai keislaman, membuat Dena memiliki semangat dalam mendukung dan berpartisipasi aktif di dalamnya.

Motivasinya untuk kuliah di luar negeri salah satunya untuk membuktikan jika santri juga bisa bersaing secara global, memiliki kapasitas serta value yang cukup untuk berpartisipasi di kancah internasional.

”Saya ingin mengajak santri-santri yang lain agar tidak merasa minder atau insecure dengan kemampuan mereka, serta mampu memanfaatkan potensi yang dimiliki agar bermanfaat di masyarakat,” jelasnya. 

Selain niat yang kuat, kamampuan berbahasa Inggris juga menjadi bekal utama untuk kuliah di Inggris, biasanya dibuktikan dengan sertifikat tertentu, seperti IELTS, TOEFL, dan lain sebagainya.

Jika dibandingkan dengan Indonesia, belajar di Inggris memiliki banyak perbedaan, yang utama dalam hal bahasa dan budaya.

Baca Juga: Pemuda Jombang ini Berbagi Tips Agar Bisa Diterima Bekerja di Kapal pesiar

Tentu, kuliah di Inggris menggunakan bahasa Inggris, sedangkan dalam memanggil dosen, di Inggris tidak ada tambahan pak/bu, semua dosen dipanggil nama secara langsung.

”Mereka justru kurang nyaman jika ditambah Mr atau Miss, jadi dalam diskusi dengan mahasiswa lebih santai,” jelasnya.

Dalam belajar, mahasiswa juga harus aktif agar tidak tertinggal dengan teman-temannya yang lain.

Dengan cara memberikan opini, bertanya, atau menjawab diskusi yang berlangsung dalam kelas.

”Bahkan jika ada mahasiswa yang selalu diam dan tak mau bersuara, akan ditunjuk oleh dosen secara langsung untuk menyampaikan pendapatnya,” jelasnya. (wen/naz/riz)

 

Editor : Achmad RW
#inggris #Jombang #gadis #eropa #Beasiswa