RadarJombang.id - Muhlashon Jalaluddin sudah di Mesir sejak 8 Oktober 1991. Tepatnya sejak kuliah di Fakultas Syariah Universitas Al Azhar.
Sekarang, dia bekerja sebagai pegawai KBRI Kairo di bagian fungsi politik.
Putra pasangan Jalaluddin dan Badriyah Afandy ini memutuskan kuliah ke Mesir setelah menamatkan pendidikan di MIN Teladan (MIN-T) 1979.
MTs Darul Ulum III Bareng 1989, KMI Gontor lulus 1987. Serta Institut Pendidikan Darussalam (IPD) Gontor lulus 1991.
Ia memilih Mesir karena negara itu terkenal dengan Universitas Al Azhar.
Institusi keagamaan dan pendidikan yang sangat tua dan berhasil mencetak banyak ulama besar.
Perjalanan Al Azhar konsisten sejak berdirinya 975 M hingga sekarang.
Tidak hanya menimba ilmu di bangku kuliah, Muhlashon juga aktif di berbagai organisasi.
Ia pernah menjadi ketua ICMI Orsat Kairo. Pernah jadi ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Mesir (2006-2008 dan 2008-2010).
Serta Rois Syuriah PCINU Mesir 2010-sekarang.
33 tahun tinggal di Mesir, ia sudah merasa sangat nyaman. Menurutnya, bekal bagi yang ingin belajar di Mesir tidak terlalu sulit.
Bahkan bisa dipelajari sejak jauh-jauh hari. Pertama, kemampuan berbahasa Arab.
Baik kemahiran membaca, menulis, mendengar dan berbicara. Sebab Bahasa Arab menjadi pengantar dalam studi di Mesir.
Kedua mental. Karena sebagai seorang pelajar, apalagi jauh dari kampung halaman, harus kuat dan tidak gampang putus asa.
Tidak mudah tergoda dengan hal-hal yang mengganggu proses studinya.
Sama rasanya tinggal di negara-negara yang lain. Puluhan tahun tinggal di Mesir tak selamanya hanya merasakan suka. Tapi juga duka.
Yaitu jauh dari keluarga. Sulit menyesuaikan diri dengan cuaca.
’’Saat musim panas sangat panas. Musim dingin sangat dingin dan kering. Termasuk sulit adaptasi dengan makanan baru,’’ urainya.
Oktober 1991 ia datang di Mesir. Saat cuaca sudah mulai dingin. Dia bersama 33 calon mahasiswa penerima beasiswa Al Azhar yang diseleksi Departemen Agama RI.
Disambut Atase Pendidikan KBRI Kairo dan senior pengurus Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (HPMI) Mesir.
Dalam acara penyambutan, dirinya dibreafing oleh para senior tentang bagaimana menghadapi musim dingin di Mesir.
’’Kami harus selalu memakai jaket meskipun kelihatannya udara tidak terlalu dingin,’’ ucapnya.
Karena cuaca dingin di Mesir itu kering, dan angin kencang. Jika tidak memakai jaket akan mudah terserang penyakit.
’’Sejak saat itu, kami mulai beradaptasi dengan cuaca dingin di Mesir. Beradaptasi dengan cuaca dingin bagi kami dan rombongan bukanlah yang pertama. Karena sebelum sampai di Mesir, kami terlebih dulu transit di Praha (ibu kota Checo Slovakia saat itu),’’ urainya.
Mereka selama tiga hari di Praha. ’’Kami hidup dalam cuaca dingin Eropa, saat itu minus 5 derajat,’’ kata ayah lima anak ini.
Muhlashon saat itu baru pertama kali hidup di negara yang memiliki dua waktu berbeda dalam satu tahun.
Ada waktu musim dingin dan waktu musim panas.
Jika berada dalam waktu musim dingin, maka bedanya dengan Indonesia 5 jam. Di musim panas, beda waktu menjadi 4 jam.
Waktu musim dingin dimulai pada Jumat terakhir Oktober. Waktu musim panas dimulai pada Jumat terakhir April.
Setiap perubahan waktu tersebut, jam yang otomatis, akan berubah dengan sendirinya.
’’Sementara jam manual harus kita yang mengubahnya,’’ ucapnya.
Contohnya, dari jam musim panas berubah ke jam musim dingin di Jumat terakhir Oktober.
"Ketika pukul 23.00 memasuki detik ke 59, dia akan kembali otomatis ke jam 23.00 lagi,’’ katanya.
Dari tahun ke tahun, ia mengaku semakin enjoy. Sebab bisa mendapatkan banyak pengalaman baru yang belum pernah dialami di tanah air.
Budaya baru, adat istiadat baru, teman baru, jenis makanan baru. Apalagi Mesir negara dengan peradaban tua.
Ia bisa kembali ke lima abad sebelum Masehi dan bisa menyaksikan peninggalan masa itu yang masih diabadikan.
Baca Juga: Alasan Utama Yulia, Wanita Asal Jombang Pilih Lanjutkan Kuliah di Australia
’’Meskipun Mesir tidak semodern Indonesia, tetapi justru hal-hal berharga itu kita peroleh dari otentisitas Mesir dalam berbagai hal,’’ ungkapnya.
Banyak ilmu agama yang diperoleh di Indonesia, tetapi konteknya justru dikehidupan warga Mesir.
’’Banyak literatur keagamaan kita merupakan karya-karya ulama Mesir dan negara Arab pada umumnya,’’ urai suami Nayla Maghfiroh tersebut.
Banyaknya pengalaman yang didapatkan selama 33 tahun tinggal di Mesir, ia tuangkan dalam sebuah buku yang diberi berjudul; Shocking Egypt yang diterbitkan di Yogyakarta 2013.
’’Karya saya baru satu, belum sempat menulis lagi. Sebelumnya saya pernah menerjemah Tafsir Muntakhob (selekta) bersama tim dan di isyraf oleh Prof Quraish Shihab diterbitkan Majlis Tinggi Urusan Agama Islam mesir,’’ bebernya. (wen/jif/riz)
Editor : Achmad RW