RadarJombang.id - Bagi Yulia Puspita Arum, memilih Australia sebagai tujuannya melanjutkan kuliah S2 bukanlah asal-asalan.
Kandidat Master of TESOL dari Dusun/Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak Jombang ini memilih Australia lantaran rata-rata kampus di Negeri Kangguru masuk dalam 50 universitas terbaik dunia.
”Awalnya saya ingin kuliah ke Inggris, atau Eropa yang bisa menempuh S2 hanya setahun. Tapi, setelah dipikir-pikir pasti berat juga kalau menempuh pendidikan S2 hanya setahun,” kata alumnus Universitas PGRI Jombang (UPJB) ini.
Ia mengaku tak terlalu kesulitan meski baru tinggal di Australia. Mengingat memiliki teman-teman yang kompak.
Mereka, adalah mahasiswa sesama penerima beasiswa LPDP yang perkumpulannya disebut dengan kelurahan.
Dari hal keperluan perkuliahan, hingga makanan, saling gotong royong karena sudah seperti keluarga.
”Di sini akan tetap merasakan Indonesia, walau kita jauh dari Indonesia, karena teman-teman sering masak masakan Indonesia yang kemudian dibagi-bagikan ke sesama teman,” jelasnya.
Ia juga merasakan perbedaan antara sistem pendidikan di Indonesia dan luar negeri.
Kuliah di Australia, juga sudah menyediakan platform khusus untuk menyediakan kelas, perpustakaan informasi kesehatan, hal akademis, urusan dokumen, hingga tempat mengerjakan tugas.
Di sana juga, ia lebih belajar mandiri. Sebab, semuanya sudah tersedia di platform.
”Di Monash namanya Moodle,” jelas ibu dari Kaina Alexa dan Kian Alifiansyah tersebut.
Sistem perkuliahan juga membuatnya sedikit kaget. Sebab, satu semester hanya satu mata kuliah, sehingga seminggu hanya dua hari kuliah.
Itupun satu mata kuliah kadang tidak ada pertemuan kelas, jadi ya harus belajar secara mandiri.
"Mencarinya ya di Moodle itu, tapi tugasnya harus ngapain, apa yg perlu dibawa, semua di situ, bahkan ada keterangan kita tidak perlu beli buku tambahan, all is provided,” ungkapnya.
Selain perkuliahan, kehidupan di sana menurutnya cukup mengejutkan.
Jika berbelanja di Indonesia adalah kegiatan yang menyenangkan dan mudah, tidak di sekitar tempat tinggalnya.
Karena pusat perbelanjaan jauh dari tempat tinggalnya. Pergi belanja harus naik transportasi umum yang tempat pemberhentiannya cukup jauh dari tempat tinggalnya di 21 Stockdale Avenue, Clayton, Victoria.
”Pemberhentian bus jauh banget, jadi kalau belanja harus nenteng belanja berat-berat untuk jalan kaki dibawa ke rumah,” katanya.
Biasanya, ia mengisi waktu libur dengan jalan-jalan, mengeksplor Australia.
”Biar tidak stress juga diisi dengan jalan-jalan bareng teman-teman,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW