RadarJombang.id - Bagi Rafita Sari, memilih melanjutkan pendidikan di Australia bukanlah pilihan asal.
Australia dipilihnya karena negara yang memiliki sistem pendidikan yang bagus di dunia, serta negara yang aman untuk mahasiswa internasional.
Menurutnya, pendidikan di luar negeri dengan di Indonesia sangat berbeda. Jika selama S1 di Universitas PGRI Jombang.
Di Jombang, kebanyakan dosen memberikan tugas berupa makalah yang kemudian dipresentasikan.
Sedangkan di Australia, mahasiswa diminta membuat laporan, esai, critical review dan annotated bibliography.
”Kita di Australia dituntut untuk belajar mandiri, semua mata kuliah yang kita ambil, materi, hingga list bacaan yang disiapkan sudah ada bahkan sebelum kuliah dimulai,” jelasnya.
Tujuannya agar mahasiswa sudah siap ketika masuk ke dalam kelas, dengan bacaan yang diberikan atau materi yang sudah diunggah ke aplikasi khusus.
”Semoga someday pendidik di Indonesia bisa seperti itu,” ungkapnya.
Menurutnya, hidup di Australia cukup mudah. Ia mudah menemukan makanan Indonesia, makanan halal, bahkan tempat ibadah di Kampus.
”Pernah dikira orang Malaysia, bahkan pernah dikira orang Singapura, padahal asli wong jowo Jombang,” ungkap warga Sidowarek, Kecamatan Ngoro yang kini tinggal di Meeks Street, Kingsford, New South Wales ini.
Di awal tinggal di sana, penyuka series dan komik webtoon ini mengalami beberapa culture shock. Salah satunya waktu salat. Sebab, matahari baru terbenam pukul 19.30.
”Jam 17.00 di sini masih sangat terang benderang, jadi Subuhnya pagi banget, Duhur dan Isyanya malam banget,” ungkapnya.
Hari libur, ia biasa mengisi waktu dengan jalan-jalan eksplor Sydney, ke museum, foto-foto bangunan yang bagus.
”Kulineran yang enak-enak, agar lebih balance hidupnya,” jelasnya.
Tita merupakan mahasiswa yang berprestasi. Ia meraih juara 1 debat bahasa Inggris tingkat provinsi pada tahun 2018.
Ia juga meraih juara harapan tiga pada National University Debating Championship (NUDC) level rayon tahun 2019.
Tita, juga sempat meraih juara 2 lomba mengajar Bahasa Inggris tingkat nasional tahun 2019.
Ia juga sempat mendapatkan hibah PKM pengabdian masyarakat tahun 2020, penerima beasiswa LPDP tahun 2022.
”Dan semoga soon bisa earning new achivement di level internasional,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW