RadarJombang.id - Laiknya sosok diaspora lain, Maseta Rahma juga merasakan sejumlah perbedaancara hidup di Indonesia dan Korea Selatan.
Perbedaan itu, baik dalam pola hidup, makanan, hingga sistem pendidikan di Korea Selatan yang sangat berbeda dengan Indonesia.
Maseta, kuliah dengan KAIST Global Presidential Scholarship atau beasiswa yang didapatkan dari kampus untuk biaya pendidikan dan biaya hidup setiap bulan.
Setelah merasakan belajar di Korea Selatan, ia merasakan perbedaan sistem pendidikan di Indonesia dan di luar negeri.
Salah satunya adalah kemajuan teknologi, fasilitas yang lebih banyak dan memadai, serta kebebasan berpendapat dan lebih terbuka.
Hanya saja, ia mengalami beberapa kesulitan saat awal-awal tinggal di Korea Selatan.
Sebagai muslim, menurutnya Korea Selatan kurang mewadahi, minimnya tempat salat dan mencari makanan halal yang sulit.
Sebab, protein utama yang jadi konsumsi masyarakat lokal adalah babi.
Di Korea juga terkenal dengan budaya ppali-ppali, atau budaya cepat-cepat.
Itu juga yang jadi culture shock baginya sebagai warga baru Korea.
”Itu yang agak mengejutkan dan terkesan semua harus dilakukan secara terburu. Pernah saya lambat pilih supermarket di dalam kampus sampai ditegur petugasnya,” ungkapnya.
Baca Juga: Cerita Jouvan, Arek Jombang yang Nikmati Tantangan Hidup Sambil Bekerja di Jepang
Namun, hal itu didukung dengan transportasi umum yang nyaman, tepat waktu dan bersih.
Korea Selatan tetap membawa kesan yang mendalam bagi Maseta, termasuk pengalamannya merasakan empat musim.
”Itu berkesan bagi saya yang terbiasa hidup di negara tropis,” jelasnya.
Apalagi ketika ia berkesempatan untuk datang di konser-konser K-pop langsung di Korea.
”Saya sudah ketemu dengan idola saya, Blackpink, Super Junior, Shinee, NCT, CNBlue,” kata gadis kelahiran Jombang, 25 September 1999 ini.
Biasanya, untuk mengisi waktu libur, ia jalan keliling Korea Selatan.
”Seperti liburan kuliah musim dingin kemarin saya ikut program student exchange,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW