RadarJombang.id - Pungki Arista Vinuji bercerita, hidup di negeri orang terlabih Hungaria bukan hal mudah. Sejumlah hambatan baik berupa tradisi hingga bahasa harus dihadapinya.
Namun, meskipun hingga beberapa tahun hidup di Hungaria, pemuda asal Keplaksari, Peterongan Jombang ini tetap merasa nyaman karena banyaknya dukungan.
Hungaria dipilih Pungki karena ingin menjelajah Eropa, mulai dari kehidupan masyarakatnya, budaya serta lingkungannya.
”Awalnya takut tidak bisa adaptasi di lingkungan kerja,” ungkapnya.
Sebelum bekerja, Pungki dibekali dengan kemampuan bahasa dan serta dikenalkan budaya Eropa.
Di sana, ia menghadapi teman baru dari Hungaria, Mexico, Serbia, Rumania juga Ukraina.
”Dan sangat sedikit yang bisa bahasa Inggris. Jadi, waktu itu masih agak kesulitan adaptasi, tapi seiring berjalannya waktu alhamdulillah masalah lingkungan bisa teratasi semua,” jelasnya.
Menurutnya, kerja di Indonesia dan di Hungaria sama saja, yaitu kerja delapan jam sehari, dengan istirahat 30 menit, dan 10 menit untuk salat. Satu tahun dapat cuti sebanyak 22 hari.
”Yang membedakan di kualitas pengerjaan di sini lebih bagus. Bicara lingkungan kerja sih sama seperti Indonesia, ada yang toxic ada welcome. Tapi, orang sini kalau marah itu cuman di hari itu saja, besoknya bercanda lagi,” jelasnya.
Salah satu motivasi Pungki bekerja di luar negeri karena ingin menjelajah dunia.
Ia pernah ingin bekerja di Jepang, sayangnya mendaftar secara mandiri. Saat cabang PT Guntner Hungaria dibuka dan membutuhkan tenaga, ia buru-buru mendaftar dan diterima.
Baca Juga: Cara Nida, Gadis Jombang Menghadapi Cultural Shock Selama Hidup di Belanda
”Itu pertama kali man power Indonesia beralih kontrak, biasanya setahun sekali hanya diperbantukan selama tiga bulan,” jelasnya.
Jika membandingkan gaji yang didapat, Jepang dan Korea masih lebih tinggi.
Namun, ia tetap bersyukur, di luar gaji yang didapatkan, ia bisa mendapatkan pengalaman yang banyak.
”Suka dukanya yang pasti jauh dari keluarga, tapi saya bisa explore Eropa di sini, meski masih hanya Austria, bisa dapat ilmu kehidupan bertemu dengan teman baru, yang hebat dan bisa saya gali ilmunya,” jelasnya.
Putra pasangan Sapto Pinuji dan Rohmatin ini mengaku mengalami kesulitan komunikasi sampai sekarang.
Namun, ia mengaku beruntung, meski bicaranya belum lancar tapi lingkungan sekitarnya tidak pernah menertawakan, justru belajar mengerti.
”Kalau orang lain bicara saya mencoba memahami kata dasarnya, karena bahasanya sangat sulit dipelajari,” jelasnya.
Soal makanan, ia cukup mudah beradaptasi. Sebab, ia mendapatkan jatah bahan mentah yang cukup dari sisi jumlah hingga nutrisi dari perusahaan sehingga bisa diolah sesuka hati.
”Kalau masakan orang sini cenderung asin, tapi jatah dari perusahaan sangat lengkap, 4 sehat 5 sempurna,” katanya.
Sedangkan iklim di Hungaria, ia hanya mengaku kerepotan ketika datang musim dingin.
Karena, ia harus menggunakan pelembab dan pakaian yang bertumpuk-tumpuk agar badan tetap hangat ketika di luar ruangan.
”Kalau pergantian iklim dari tahun ke tahun tidak begitu dingin seperti awal-awal tinggal di sini,” jelas pria yang hobi koleksi tanaman dan olahraga tersebut. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW