RadarJombang.id - Bagi Waqidatul Nur Prihatin alias Nida, setiap hari di Belanda adalah kesempatan untuk berkembang.
Baik berkembang dalam lingkungan yang menghargai ide-ide baru, kreativitas, keberagaman, dan kualitas hidup yang tinggi.
”Belanda bukan hanya tempat kerja, tapi juga tempat untuk menumbuhkan mimpi dan menemukan kebahagiaan,” katannya.
Setiap hari ia selalu bersemangat untuk bekerja. Mengingat tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama seperti dirinya.
Setiap hari bisa belajar, menambah pengalamannya, dan memperluas jaringannya.
Ia juga banyak belajar dengan cara kerja yang efisien, dengan terlibat dalam project-project yang inovatif.
”Bekerja di Belanda adalah pengalaman yang memperkaya, baik secara profesional maupun pribadi. Saya bertemu dengan kolega dari berbagai belahan dunia,” ungkapnya.
Di tempat kerjanya, Nida merasa nyaman karena lingkungannya cenderung kolaboratif dengan hierarki yang datar.
Para pekerja di Belanda tidak memandang posisi atau umur dalam berkembang.
”Menurut saya ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi perjalanan untuk menemukan potensi terbaik diri sendiri,” ungkap alumnus SMKN 1 Jombang Jurusan Perhotelan ini.
Untuk bisa bekerja di luar negeri khususnya di Belanda, bekal utama menurutnya adalah kemampuan bahasa Inggris.
Baca Juga: Cerita Sukses Santri Tebuireng yang Kini Lanjutkan Pendidikan Tafsir di Mesir
Tidak harus bahasa Belanda, sebab di Belanda meski bukan negara yang menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya, tapi masyarakatnya memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik.
”Bahkan kemampuan bahasa Inggris masyarakat Belanda yang terbaik di dunia,” kata putri pasangan Suwarno dan Siti Muromelah ini.
Namun, meski memiliki cukup kemampuan untuk berbahasa Inggris, belajar bahasa Belanda baiknya tetap dilakukan.
Hal itu penting agar semakin menyatu dengan lingkungan tempat tinggal atau tempat bekerja. Juga terbuka pada makanan dan tradisi baru.
”Yang perlu diingat, kunci sukses adaptasi adalah sikap terbuka dan keinginan untuk belajar,” jelasnya.
Jaringan internasional juga bisa dibangun melalui sosial media sembari mencari informasi tentang visa kerja.
”Setiap aplikasi yang dikirimkan, sekecil apa pun, merupakan langkah dekat menuju impian, percayalah pada kemungkinan,” jelasnya.
Di Belanda, Nida kembali mulai dari nol. Apalagi sebelum ia bekerja, ia tidak memiliki teman, ,tidak punya tempat berbagi cerita.
Karena di Belanda masyarakat cenderung tertutup, utamanya dengan orang-orang baru atau orang yang tidak dikenal.
”Orang Belanda sangat tertutup, sangat menjaga privasi, bahkan senyum di jalan kalau papasan sama orang bagi mereka bukan hal yang biasa, dan dianggap aneh,” katanya.
Adaptasi makanan menurutnya lebih mudah, karena di Belanda banyak makanan Indonesia.
”Karena kita punya sejarah panjang dengan Belanda ya,” katanya.
Baca Juga: Santriwati Tambakberas Jombang ini Kini Tengah Berjuang Rampungkan Pendidikan S3 di Edinburgh
Yang sulit menurutnya adalah adaptasi dengan cuaca, apalagi saat musim dingin.
”Solusi menghadapi musim dingin adalah kabur ke negara yang lebih panas, paling liburan ke Portugal atau Spanyol,” tambahnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW