Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Cerita Sukses Santri Tebuireng yang Kini Lanjutkan Pendidikan Tafsir di Mesir

Wenny Rosalina • Sabtu, 25 November 2023 | 15:15 WIB
Zidny Hudaya Ahmad, Santri Tebuireng yang kini melanjutkan pendidikan di Mesir
Zidny Hudaya Ahmad, Santri Tebuireng yang kini melanjutkan pendidikan di Mesir

RADAR JOMBANG - Zidny Hudaya Ahmad, adalah salah satu santri Tebuireng Jombang yang memiliki keinginan kuat untuk menuntaskan pendidikannya hingga S3 di Mesir.

Santri Tebuireng yang juga putra pasangan Akhmad Halim dan Ainun Nahdliyah berangkat ke Mesir lewat jalur Kementerian Agama RI nonbeasiswa.

Ia, aru mendapatkan beasiswa dari Muassasah Mishr Al-Khoir ketika sudah sampai di Mesir.

Untuk mendapatkan beasiswa itu, ia  mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi dari pihak asrama.

Dilihat dari nilai di kuliah, hafalan Al-Qur’an, dan bahasa Arab.

Selain kemampuan akademik, menurutnya yang perlu dipersiapkan ketika mau kuliah di luar negeri adalah mental.

Sebab, akan lama jauh dengan orang tua, keluarga dan teman-teman. Mempelajari bahasa asing di negara tujuan juga tak kalah penting.

”Alhamdulillah saya sangat bahagia karena diberi kesempatan kuliah di sini. Tapi, kadang-kadang ya sedikit sedih, karena harus tinggal jauh dari orang tua tercinta,” ungkapnya yang mulai tinggal di Mesir sejak Tahun 2022.

Zidny kini sudah semester tiga, pada jurusan Tafsir Alquran. ”Selama sekolah saya hafalan 5 juz, menunggu keberangkatan hafalan saya nambah 4 juz, jadi total 9 juz,” tambahnya.

Awal tinggal di Mesir pemuda kelahiran Jombang, 28 September 2002 merasakan beberapa culture shock.

Mulai dari sisi iklim hingga makanan. Di Mesir ada musim dingin dan ada musim panas.

Baca Juga: Pengalaman Tak Terlupakan Pemuda Jombang yang Rasakan Pertukaran Pelajar ke New Zealand

Sedangkan makanan pokok yang ada di Mesir adalah gandum yang biasanya diolah menjadi roti.

”Jadi, kami harus menyesuaikan itu, kalau dingin ya dingin banget. Kalau panas ya panas banget,” tambahnya.

Zidny memiliki cita-cita besar. Ia ingin menyelesaikan studi S1, S2, hingga S3 di luar negeri. Harapannya, ia ingin berkontribusi di bidang pendidikan agama Islam.

Ia mengaku prihatin, ketika melihat informasi jika 70 persen masyarakat muslim Indonesia belum bisa membaca Alquran.

”Itu merupakan sebuah PR bagi kami para pengemban amanah agama Islam,” imbuhnya.

Tidak hanya omong kosong, meskipun belum lulus, Zidny sudah memulai langkahnya dengan membuat platform belajar online bernama Hasanain Center.

Model belajarnya secara virtual. Ada materi tentang belajar bahasa Arab, Fiqih, Aqidah, dan Alquran.

”Itu adalah sebuah langkah awal dari beribu langkah yang akan saya tempuh kedepannya,” pungkas pemuda yang suka bermain sepak bola dan membaca tersebut. (wen/naz/riz)

Editor : Achmad RW