RADAR JOMBANG - Mendapatkan kesempatan program pertukaran pelajar ke Taiwan, membuat Khafifulloh Al Faqih Zam Zammi merasa beruntung.
Selain mendapatkan banyak pengalaman, ia senang banyak mendapat teman baru dari lintasnegara di Taiwan.
”Taiwan saya pilih karena memiliki perkembangan teknologi yang cepat dan maju, terutama dalam industri manufakturnya,” kata mahasiswa Teknik Desain dan Manufaktur Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, yang sekarang belajar di National Formosa University, Taiwan.
Pemuda asal Desa Palrejo, Kecamatan Sumobito yang kini tinggal di Huwei, Yunlin, Republik of China menyebut, alasan lainnya, Republik Tiongkok merupakan salah satu negara yang paling aman di dunia untuk dikunjungi.
”Transportasi publiknya nyaman dan mudah diakses ke mana pun,” ungkapnya.
Ia berhasil mendapatkan beasiswa IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards).
Beasiswa tersebut diperutukkan untuk mahasiswa sarjana dan vokasi pada semester 4 dan 6 saat pendaftaran.
Ia sukses melalui dua tahap seleksi. Yaitu seleksi administrasi dan wawancara.
”Semua seleksi dilakukan menggunakan bahasa Inggris,” jelas alumnus SMPN 1 Mojoagung tersebut.
Belajar di luar negeri merupakan momen yang ia tunggu sejak duduk di bangku SMAN Mojoagung.
Ia ingin kuliah di luar negeri, karena terinspirasi film kisah BJ Habibie.
Baca Juga: Pola Pendidikan di Edinburgh yang Bikin Santriwati Tambakberas Jombang Terisnpirasi
”Itu merupakan salah satu motivasi saya untuk menggapai ilmu sampai ke luar negeri,” ungkap pria kelahiran Jombang, 18 Mei 2001 yang hobi nonton film tersebut.
Saat mendapatkan informasi lolos seleksi beasiswa itu, Izam, sapaan akrabnya, mengaku sangat gembira.
Ia pun segera mempersiapkan semuanya terutama mental karena harus tinggal jauh dari kedua orang tuanya, yakni Misdi dan Asemah.
Dimulai dengan mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang Taiwan termasuk budaya setempat agar lebih mudah beradaptasi.
”Saya di sini mulai Agustus, tentunya senang namun terkadang masih rindu Indonesia. Namun, di Taiwan banyak juga orang Indonesia, jadi ketika kangen Indonesia bisa ngobrol sama orang-orang Indonesia yang ada di Taiwan,” jelasnya.
Selama tiga bulan awal tinggal di Taiwan, ke mana-mana ia harus siap Google Translate.
Sebab, masyarakat Taiwan menggunakan bahasa Mandarin dalam kehidupan sehari-harinya. Kemampuan bahasa Inggris masyarakat lokal juga terbatas.
Di Taiwan juga banyak tenaga alam yang dimanfaatkan.
Salah satunya, hampir setiap gedung tinggi selalu ada solar panel yang dipasang untuk dimanfaatkan sebagai energi listrik.
”Di sini juga banyak kincir angin besar untuk jadi energi listrik,” ungkapnya.
Sekitar Januari 2024 nanti, ia bakal kembali ke Indonesia. Ia bakal menerapkan ilmu yang didapat untuk riset tugas akhirnya.
”Saya sekarang semester 7. Ya mudah-mudahan tugas akhir itu bisa bermanfaat untuk Indonesia, yang telah membiayai saya untuk belajar di Taiwan,” jelas Alumnus MI Al-Ihsan 1 Sawahan, Jogoroto itu.
Baca Juga: Tips Mudah Belajar Bahasa Inggris dari Gadis Jombang yang Kini Lanjutkan Kuliah di Australia
Sejak duduk di bangku sekolah, Izam suka berorganisasi. Ia pernah aktif menjadi pengurus OSIS.
Saat ini IA dipercaya sebagai ketua himpunan mahasiswa teknik dasar dan manufaktur.
Melalui organisasi, ia dapat mengembangkan kepercayaan diri, kepawaian dalam berkomunikasi.
”Saya juga ikut riset dengan dosen, sehingga ilmu yang saya dapatkan bisa lebih banyak, dan menjadi added value untuk diri saya,” tambahnya.
Selama menjalani pertukaran pelajar ini, Izam mendapatkan banyak teman dari lintasnegara, seperti India, Pakistan, Vietnam, dan warga lokal Taiwan. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW