RADAR JOMBANG - Rasa syukur tak terbendung, begitu ungkap Muhammad Hammam Badruz Zamani, alumni MTs dan MA Madrasatul Quran, Tebuireng, Jombang.
Hammam mendapatkan kesempatan belajar di Bilad Asy-Syam University Suriah dan belajar Ushuluddin di tempat lahirnya ulama berpengaruh di dunia.
”Suriah biasa disebut sebagai Syam, negara yang tertera dalam hadits Nabi Muhammad SAW, Ya Allah berkahilah kami di negeri Syam kami, Ya Allah berkahi kami di negeri Yaman kami,” ungkap Hammam.
Suriah dipilih tidak hanya sebagai negeri yang istimewa karena didoakan langsung oleh Nabi Muhammad.
Tapi juga negeri yang telah mencetak ulama besar kontemporer dari segala jenis ilmu. Mulai dari Tafsir, Fiqh, Hadits, Aqidah dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, dalam menuntut ilmu, Suriah tidak ada kelas bahasa yang ditempuh.
”Di beberapa negara ada yang mengharuskan mahasiswanya ikut kelas bahasa dulu, kalau di Suriah tidak ada, bisa langsung kuliah di tahun pertama,” kata pemuda yang kini tinggal di Rukn El-din, Damaskus, Suriah tersebut.
Dari sisi musim, Suriah memiliki empat musim. ”Yang paling menarik, ada saljunya, di mana tidak pernah saya rasakan di Indonesia,” ungkapnya.
Ia belajar di Suriah gratis. Mulai dari biaya kampus, akomodasi, dan makan sehari-hari. Melalui Ikatan Alumni Syam (Al-Syami) ia mengikuti seleksi.
”Beasiswa dari kampus saya sendiri, yakni kampus Bilad Asy-Syam cabang Mujamma’ Syekh Ahmad Kaftaro. Melalui Al Syami saya diseleksi dan diantarkan sampai tujuan dengan para asatidz Al-Syami yang mendampingi kami,” ungkap pria yang lahir di Mojokerto, 16 Oktober 2002 ini.
Tidak ada keharusan menempuh kelas bahasa, namun untuk belajar di luar negeri, bekal kemampuan bahasa asing harus dimiliki.
Baca Juga: Santriwati Tambakberas Jombang ini Kini Tengah Berjuang Rampungkan Pendidikan S3 di Edinburgh
Baik bahasa Inggris maupun bahasa Arab sama pentingnya.
Hammam menyebut, biasanya orang yang sudah belajar bahasa Arab akan merasa tidak membutuhkan bahasa Inggris, dan sebaliknya, padahal keduanya sama penting.
”Jangan meremehkan bahasa, apalagi merasa cukup, yang biasanya terjadi, jika kita sudah merasa cukup, maka akan lebih sulit bagi kita," imbuhnya.
Untuk belajar di luar negeri, Hammam memiliki tekad bulat sejak lama.
Sebab, harus pergi jauh dari keluarga, sahabat, guru, dan akan bertemu dengan ribuan orang baru.
”Bagi saya tidak cukup hanya niat yang kuat saja, tapi niat yang sungguh sangat kuat,” jelasnya.
Mulai belajar di Suriah sejak 2021, ia merasakan banyak perbedaan antara belajar di Indonesia dan di Suriah.
Salah satunya adalah dituntut untuk beradaptasi dengan lingkungan, adat, budaya, juga bahasa.
Kuliah di Suriah, tidak ada tugas setiap hari, dan ujian hanya dilakukan setahun sekali.
”Di saat banyak teman-teman saya mengeluh banyak tugas, saya di sini santai,” ungkapnya sembari tertawa.
Jika dibandingkan dengan Mesir, tidak banyak warga Indonesia yang belajar di Suriah.
Hal itu karena Suriah sering kali dipandang sebagai negara yang menyeramkan.
Baca Juga: Usai Tamat Mondok, Santri Tebuireng Jombang ini Kini Menimba Ilmu di Yaman
Namun Suriah bagi Hammam adalah negara yang ramah, memiliki sejarah panjang yang menarik baginya.
Yang membuat ia nyaman tinggal di Suriah adalah warganya yang ramah dan suka menyapa.
Bahkan meski orang asing, tak segan bertanya kabar, saling salam, dan mendoakan layaknya orang yang sudah lama kenal.
”Yang bikin saya kaget pertama kali adalah bentuk rumah. Bentuk atapnya melingkar sampai bisa ditanami pohon,” ungkapnya.
Setelah ia tamat S1 dari Suriah, ia bakal pulang ke Indonesia. Ingin menjadi penulis buku, membagikan ilmunya melalui buku.
Misinya, untuk mendekatkan Suriah ke Indonesia, menjelaskan jika Suriah bukan negeri yang penuh dengan darah, tapi penuh dengan keramahan dan kasih sayang.
”Saya ingin membuka pengetahuan anak-anak muda dengan membaca sejarah. Saya mau memberi tahu mereka sejarah adalah hal yang sangat penting,” jelasnya.
Nyantri di Jombang enam tahun, ia mengaku tak memiliki prestasi yang tinggi.
Hammam hanya santri yang diam dan manut, baik dengan kedua orang tuanya juga kepada kiainya.
Lancarnya pendidikan yang ia jalani di Suriah merupakan bagian dari doa dan support kedua orang tuanya Abdul Muhaimin dan Masulil Munawaroh.
”Saya mengikuti apa yang orang tua katakan, dan orang tua mendukung apa yang saya lakukan,” pungkasnya. (wen/naz/riz)
Editor : Achmad RW