Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pengalaman Tak Terlupakan Pemuda Jombang yang Rasakan Pertukaran Pelajar ke New Zealand

Wenny Rosalina • Sabtu, 28 Oktober 2023 | 15:50 WIB
Dony Wardana, ketika merasakan student exchnge dan belajar di Nelson Marlborough Institute of Technology New Zealand
Dony Wardana, ketika merasakan student exchnge dan belajar di Nelson Marlborough Institute of Technology New Zealand

JOMBANG – Bisa kuliah sambil liburan setiap saat. Itu yang dirasakan Dony Wardana, ketika ia belajar di Nelson Marlborough Institute of Technology, Selandia Baru.

Ia bisa belajar sambil jalan-jalan, menikmati pemandangan Selandia Baru alias New Zealand yang indah.

”New Zealand memiliki wisata alam yang baik seperti Switzerland. New Zealand tidak ada diskriminasi, dan negaranya sangat aman untuk berkarier,” kata Dony.

Hal itu juga yang menjadi salah satu alasan Dony memilih New Zealand untuk menempuh pendidikan S1.

Warga Kelurahan Jombatan, Kecamatan Jombang yang kini tinggal di 8 Lauria Way, Maitai, Nelson 7010 New Zealand ini memulai pendidikannya di SD Negeri Serang 11 Banten.

Ia, kemudian melanjutkan pendidikannya di SMPN 2 Jombang, dan di SMAN 2 Jombang.

Setelah itu ia mengambil D4 Teknik K3 di Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya.

Masuk semester lima, ia kemudian mendapatkan beasiswa IISMA (Indonesian International Student Mobility Award).

Dony berkesempatan untuk student exchange ke New Zealand.

Untuk mendapatkan beasiswa itu, menurut Dony tidak mudah. Banyak proses yang harus dilewati.

Yaitu seleksi berkas, dengan mengisi data diri, pertanyaan esai, dan memilih dua tujuan negara dan program yang diinginkan.

Baca Juga: Tips Mudah Belajar Bahasa Inggris dari Gadis Jombang yang Kini Lanjutkan Kuliah di Australia

Memberikan tiga pengalaman organisasi atau volunteer, serta tiga penghargaan yang pernah diraih, dan surat rekomendasi dan dukungan dari kampus asal.

”Karena saya lagi exchange atau pertukaran mahasiswa, dengan program IISMA selama satu semester, Juli-November,” jelas putra pasangan Tedy Prayogi dan Dita Arumaningtyas tersebut.

Untuk bisa mengikuti kegiatan bergengsi itu, ia juga harus mengikuti tes kebhinnekaan, tes wawancara hingga akhirnya diumumkan, Dony dinyatakan lolos.

Ia juga harus memiliki paspor, dan memiliki sertifikat Bahasa Inggris seperti IELTS/TOEFL/TOEIC.

”Kalau saya pada saat itu Duolingo English Test (DET) karena hasilnya butuh cepat keluar,” jelasnya.

Menurutnya, kuliah di sana, dengan di Indonesia jauh berbeda.

Yang ia rasakan, lebih santai, banyak waktu luang yang diberikan kepada mahasiswa untuk melakukan hobi, bahkan diizinkan bekerja jika diperlukan.

”Kalau saya tidak bekerja, karena visanya tidak boleh bekerja,” jelasnya.

Tugas yang didapatkan juga tidak sebanyak tugasnya saat kuliah di Indonesia.

”Bahkan satu bulan pernah tidak ada tugas sama sekali, jadi tidak ada tekanan belajar sama sekali di sini,” jelasnya.

Nilai plusnya belajar di New Zealand, staf di kampus sangat membantu mahasiswa dalam mengurus apa pun.

Menariknya, banyak tempat wisata gratis, seperti museum, taman, atraksi, pertunjukan, konser hingga wisata.

Baca Juga: Usai Tamat Mondok, Santri Tebuireng Jombang ini Kini Menimba Ilmu di Yaman

Dari sisi lingkungan tempat tinggal, menurutnya warga lokal New Zealand sangat ramah, suka menyapa, dan memberi senyuman meski kepada orang tak dikenal.

”Setiap jalan dan bertemu orang lokal selalu disapa "Hi, how are you?" atau "Hi, have a good day” dan selalu diberi senyuman padahal tidak kenal,” ungkapnya.

Keindahan alamnya membuat warga New Zealand lebih suka beraktivitas outdoor.

Banyak hal baru yang ia dapatkan, meski hanya enam bulan di New Zealand.

Dony jadi tahu, jika warga lokal suka makan Pie, kehidupan yang tidak memperdulikan urusan orang lain dalam berbagai hal, kuliah memakai celana pendek atau kaos juga diperbolehkan.

Minum langsung dari keran air karena airnya sudah siap minum, mandi sehari-hari sekali karena tidak berkeringat.

Cuci piring memakai mesin dishwaser, mengeringkan baju memakai mesin.

Dan menariknya lagi, baik warga lokal maupun wisatawan lebih suka jalan kaki, atau memanfaatkan transportasi publik, sehingga minim polusi, dan udara bersih.

Meski singkat, ia mendapatkan banyak pengalaman baru selama belajar, seperti mendapatka field trip, kunjungan ke industri salmon, oyster, dan kerang hijau New Zealand, serta diberi fasilitas dosen tamu dari berbagai perusahaan di New Zealand seperti New Zealand King Salmon.

”Setelah saya menyelesaikan studi di sini, saya ingin S2 kembali ke sini lagi untuk belajar,” pungkasnya. (wen/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#Selandia Baru #Jombang #pertukaran pelajar #new zealand