Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Pola Pendidikan di Edinburgh yang Bikin Santriwati Tambakberas Jombang Terisnpirasi

Wenny Rosalina • Sabtu, 21 Oktober 2023 | 15:29 WIB
Af
Af

RADAR JOMBANG - Pola pendidikan di UK dengan di Indonesia dirasakan Af'idatul Husniyah jauh berbeda.

Di UK, santriwati Tambakberas Jombang ini dituntut berpikir lebih kritis, disertai dengan argumen-argumen yang menguatkan opini.

Sebab, waktu diskusi lebih lama jika dibandingkan waktu kuliah mendengarkan ceramah dosen.

Ada sistem perkuliahan lecturing atau mendengarkan dosen ceramah. Selebihnya, ia akan diberikan core reading bacaan wajib, yang harus tuntas dibaca sebagai bahan untuk diskusi dan debat.

Penilaian 100 persen melalui esai yang dibuat di akhir semester minimal 4.000 kata.

Justru, absensi atau kehadiran tidak dibutuhkan dalam menentukan nilai perkuliahan.

”Asesmen lebih menyeluruh dan mengedepankan critical thinking, ini sangat berbeda dengan di Indonesia. Di sini kita dituntut berpikir kritis, apa justifikasinya dan kenapa bisa berpikir seperti itu,” jelasnya.

Setelah ia menyelesaikan studinya nanti, ia bakal pulang ke Indonesia. Ia ingin menerapkan ilmu yang ia dapatkan.

Cara belajar yang sudah lebih maju juga bakal diterapkan di Indonesia, menularkan ilmu kepada dosen-dosen lain.

Sejak duduk di bangku S1, ia memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin. Belajar dengan sungguh-sungguh.

Berupaya untuk meraih IPK tinggi, ikut organisasi, aktif menulis di majalah kampus, ikut kompetisi-kompetisi nasional, menulis di kolom koran.

Baca Juga: Usai Tamat Mondok, Santri Tebuireng Jombang ini Kini Menimba Ilmu di Yaman

”Yang penting menggunakan kesempatan sebaik mungkin, belajar banyak hal baru, gunakan waktu S1 sebaik mungkin,” ungkapnya.

Begitu juga dalam hal belajar, tidak hanya sekedar menghafal, tapi juga melakukan hal yang lain, berfikir lebih kreatif, kritis, mencari informasi baru, tidak bergantung pada buku, memaksimalkan fungsi internet untuk belajar.

”Percayalah, ketika kita sudah terbiasa dengan melakukan hal-hal itu, pasti akan bermanfaat di masa depan,” jelasnya.

Untuk mendapatkan beasiswa LPDP, ia harus melalui tahapan tes. Di antaranya mengikuti seleksi administrasi, tes skolastik, dan tes interview.

Untuk seleksi administrasi, wajib memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang baik, minimal skor IELTs 7.

Memiliki pekerjaan dan prestasi yang membutuhkan skill khusus yang bisa didapatkan dengan mengambil doctoral degree.

”Saya dosen di Politeknik Negeri Malang yang membutuhkan skill riset, “ jelas istri Evan Harris Kristanto itu.

Untuk mendapatkan beasiswa LPDP, ia juga harus memiliki bukti publikasi yang membuktikan kemampuan riset (optional).

”Selain itu, saya sudah mendapatkan supervisor untuk program saya sebelum saya mendaftar beasiswa dan telah membuat riset proposal yang disetujui supervisor saya,” ungkapnya.

Ia mengaku bersyukur diberikan kesempatan untuk menempuh pendidikan di luar negeri.

Ia bisa  menjalin pertemanan dengan banyak orang dari lintasnegara, bisa memperkaya pengalaman dengan mengunjungi tempat-tempat baru sendiri, seperti Swiss, Turki, dan Jepang.

Namun, risikonya, ia harus berbagi waktu, antara kegiatan kuliahnya dan kewajibannya sebagai sebagai ibu dalam keluarga.

Baca Juga: Mochammad Masrikhan, Lulusan Terbaik SMK Swasta di Jombang yang Kini Kuliah di Australia

Ia mengajak anak (Nadie Mahira Akbar) dan suaminya untuk tinggal di Newington, Edinburgh, Skotlandia, United Kingdom.

”Saya belajar ketika anak sedang sekolah, atau sedang tidur. Bagi waktu jaga anak dengan suami setelah suami pulang bekerja,” pungkas wanita 32 tahun tersebut. (wen/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#Tambakberas #Jombang #pola pendidikan #UK #Indonesia #santriwati