Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Usai Tamat Mondok, Santri Tebuireng Jombang ini Kini Menimba Ilmu di Yaman

Wenny Rosalina • Sabtu, 16 September 2023 | 14:46 WIB
Abdul Chalim Mutawakkil, Santri Tebuireng yang kini kuliah di Yaman
Abdul Chalim Mutawakkil, Santri Tebuireng yang kini kuliah di Yaman

JOMBANG – Kemasyhuran negara Yaman tentang keilmuan menarik hati Abdul Chalim Mutawakkil, warga Desa Cukir, Kecamatan Diwek, untuk menimba ilmu ke sana.

Kini, ia tengah menempuh studi di Universitas Al Aghaff Yaman, mengambil konsentrasi Ulum Islamiyyah.

”Yaman adalah negara yang masyhur tentang keilmuannya, juga yang tetap menjaga keorisinilan sistem talaqqi salafunaa sholih dan di sisi lain lingkungan yang sangat mendukung untuk menjaga keilmuan baik dari sekitar maupun dari masyayikhnya sendiri,” kata Chalim.

Menamatkan pendidikan SMP dan SMA di Madrasah Mu'allimin Hasyim Asy'ari, Tebuireng dalam perjalanannya ia juga mulai berkeinginan untuk menempuh pendidikan di Yaman.

”Saya mulai ingin melanjutkan pendidikan ke Yaman itu sejak kelas 4 atau sederajat dengan kelas 1 SMA,” katanya.

Abdul Choliq Tsani dan Agustin Ratna Sari, orang tua Chalim yang awalnya ingin anaknya itu kuliah di Timur Tengah.

”Saya kira hanya bercanda, tapi ternyata serius. Mulai dari situ saya belajar dengan giat dan tekun,” jelasnya.

Setelah lulus kelas 6 atau setara dengan kelas 3 SMA, ia mulai mencari tahu tentang bagaimana cara mendaftar ke Yaman melalui kakak kelasnya saat di Madrasah Muallimin Hasyim Asyari.

”Setelah informasi yang saya dapatkan cukup, saya langsung mengikuti tes di Jakarta pusat,” imbuhnya.

Menunggu pengumuman hingga pertengahan Agustus 2022. ”Biidznillah alhamdulillah saya dinyatakan lulus tes.

Setelah itu saya mempersiapkan segala kebutuhan mulai dari data diri, paspor, surat kesehatan, menunggu pengumuman keberangkatan. Saya berangkat 31 Oktober 2022,” ungkapnya.

Kini ia tinggal di Fuwwah Mukalla Hadramaut Yaman. Menurutnya, untuk menuntut ilmu di Yaman, sejak jauh hari harus dipersiapkan, minimal penguasaan bahasa.

Bisa mengikuti les bahasa seperti di Pare, Kediri. Juga belajar ilmu Nahwu dan Shorof, juga belajar Ilmu Fiqh dasar seperti Fathul Qorib.

”Yang paling penting bahasa dasar, uang, dan tekad yang kuat serta mental. Sebab, di sana kita akan beradaptasi dengan bahasa dan kebiasaan masyarakat di sana,” jelas pria yang hobi sepak bola dan mengaji ini.

Belum genap setahun di sana, Chalim merasa jika belajar di Yaman begitu menyenangkan.

Bisa mengetahui Bahasa Arab dengan logat Arab lokal dari para guru dan masyarakat sekitar.

Ia butuh waktu untuk beradaptasi. Dari sisi makanan misalnya, jika di rumah ia sarapan nasi, di Yaman ia sarapan roti bundar dan gepeng, dengan toping bubuk kacang-kacangan.

”Kadang juga pakai selai stroberi,” jelas pria kelahiran Jombang, 03 Juni 2004 tersebut.

Uniknya, di tempat Chalim tinggal, banyak sekali burung gagak yang menyebabkan tempat tinggalnya sering mati listrik.

”Tidak enaknya, saat asik belajar malam hari, tiba-tiba mati listrik, itu pun tidak tahu matinya sampai kapan,” tambah Alumnus MI Salafiyyah Syafi'iyyah Seblak, Kwaron ini.

Setelah lulus, rencananya ia akan pulang ke Indonesia, mencari tambahan informasi tentang universitas di dalam maupun di luar negeri.

Selanjutnya, juga mencari pengajian kitab kuning untuk mengisi waktu luang.

”Yang membuat saya bisa sampai mendapatkan kesempatan belajar di negara ini adalah dukungan dari kedua orang tua. Ayah dan ibu saya sangat mendukung saya untuk menempuh pendidikan di Timur Tengah,” pungkasnya. (wen/naz/riz)

Editor : Achmad RW
#yaman #Santri Tebuireng