RADAR JOMBANG - Kondisi cuaca di Mina cukup berat bagi jemaah haji asal Indonesia. Hal itu bisa tergambar dari jumlah jemaah yang wafat di sana. Sampai kemarin, tercatat 24 jemaah haji Indonesia yang meninggal di Mina.
’’Perinciannya, 22 jemaah haji reguler dan 2 jemaah haji khusus,’’ kata Kasi Kesehatan Satgas Mina dr Thafsin Alfarizi dikutip dari Jawapos.com. Data itu dikumpulkan per 29 Juni pukul 10.00 waktu Arab Saudi.
Menurut dia, mayoritas yang meninggal adalah jemaah lanjut usia. Penyebabnya beragam. Yang dominan adalah kasus serangan jantung dan paru-paru. Kemudian, ada jemaah yang meninggal karena penyakit diabetes. Para jemaah yang wafat di Mina itu bakal dimakamkan di Syarayah, dekat Makkah.
Kemenag meminta jemaah yang berada di Mina untuk menghindari sengatan cuaca panas dengan berada di tenda. Kemudian, dapat memilih waktu yang tepat untuk melempar jumrah. Waktu yang pas adalah sore atau malam.
”Jemaah diimbau tidak melempar jumrah setelah matahari tergelincir karena alasan keselamatan dan menghindari risiko cuaca panas dan bahaya kepadatan,’’ tutur Juru Bicara PPIH Pusat Akhmad Fauzin.
Jemaah lanjut usia dan kategori risiko tinggi sebaiknya mewakilkan ke jemaah lain untuk proses lontar jumrah. Petugas yang sudah melaksanakan lontar jumrah juga bisa membantu proses badal lontar jumrah tersebut.
Dia menegaskan, orang yang sudah selesai melempar jumrah, baik telah berhaji atau belum berhaji, boleh mewakili melontar jumrah. Kemudian, jemaah atau petugas boleh melaksanakan badal lempar jumrah untuk satu orang atau lebih sampai tak terbatas.
Fauzin menjelaskan, hukum mewakilkan lempar jumrah adalah boleh. Statusnya tidak dikenai denda atau dam. (jpc/riz)
Editor : Achmad RW