Aktivitas pagi Rizki di negeri Mahatma Gandhi dimulai pukul 05.20 waktu setempat. Dimulai dengan salat Subuh, di kamar berukuran 4x4 meter persegi. ”Kegiatan masyarakat sini baru ramai saat pukul 09.00 pagi,” kata gadis asal Desa Cukir, Kecamatan Diwek tersebut.
Perjuangan Rizqi meraih beasiswa sudah dimulai sejak 2016. Kala itu, Rizqi baru saja lulus Diploma 3 jurusan Teknologi Multimedia Broadcasting di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya. Rizqi yang suka tantangan dan hal baru ingin menjajal hidup di negeri orang.
Saat itu Rizqi hendak melanjutkan studi S1 di luar negeri. Karenanya dia lantas pergi ke Pare Kampung Inggris Kediri untuk menyiapkan skor IELTS. IELTS merupakan syarat mutlak agar diterima berbagai universitas di luar negeri. Empat bulan di Pare, perjuangan Rizqi berbuah manis. Kegigihannya mengantarkan Rizqi memperoleh beasiswa S1 di salah satu universitas di Selandia Baru. Namun, dikarenakan tak mengantongi restu kedua orangtua, alumnus MAN 1 Jombang itu memutuskan menolak beasiswa tersebut.
”Sebenarnya saat itu berat buat saya. Kampus yang saya pilih berada di daerah bersalju jadi kan asyik ya. Namun, saya percaya rida kedua orang tua lebih utama,” kata Rizqi mengenang.
Mendapat skor IELTS 7 dari 9, untuk mengobati kekecewaannya, Rizqi memilih menjadi tutor IELTS di lembaga Titik Nol English Course. Tak terasa waktu terus berjalan. Hampir genap dua tahun Rizqi mengajar di Pare. Rizqi yang masih berkeinginan kuat belajar di negeri seberang itu lalu bertolak ke Kota Pahlawan. Bungsu dari empat bersaudara itu melanjutkan S1 nya dengan mengambil jurusan Jurnalistik di STIKOSA-AWS. Selama menjadi mahasiswa semester akhir, perempuan berkulit sawo matang itu juga aktif di dunia jurnalistik.
Sembari menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, Rizqi aktif mengikuti beragam seminar di dalam dan luar negeri. Antara lain Telangana Jagruthi Youth Leadership Conference di Hyderabad India dan Dream Maker Project of AIESEC Foreign Trade University Vietnam.
Berhasil lulus sebagai lulusan terbaik STIKOSA-AWS pada 2021, Rizqi kembali mencoba peruntungan mendaftar berbagai beasiswa ke luar negeri. Di antaranya Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Erasmus Mundus dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). ”Saat itu STIKOSA-AWS berkolaborasi dengan Kominfo Jatim. Ada semacam Podcast yang membahas beasiswa Kominfo, saya langsung browsing, menyiapkan semua dokumen dan apply secara online,” kata wanita yang ingin jadi dosen dan peneliti itu.
Perempuan berusia 27 tahun itu awalnya iseng. Namun, Rizqi menyiapkan semua syarat beasiswa dengan sungguh-sungguh dan tidak ngawur. Setelah diterima, Rizqi tak melewatkan kesempatan itu. India dipilih lantaran menjadi negara raksasa IT terbesar ketiga setelah Amerika dan China. Selain itu, pengantar dalam kelas menggunakan bahasa Inggris. ”Saat itu saya nggak nyangka kalau dapat beasiswa Kominfo. Di saat yang sama saya juga daftar beasiswa LPDP ke Columbia University. Saya memilih kominfo karena kalau LPDP harus menunggu setahun. Di India yang terkenal ITnya itu saya mendapat yang saya cari, saya ingin belajar mengolah data,” beber wanita yang gemar menulis cerpen tersebut.
Rizqi menyebut, beasiswa Kominfo ini dikhususkan untuk TNI atau Polri, umum dan PNS. Syaratnya antara lain memiliki pengalaman kerja minimal dua tahun di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Seperti start up dan media online. Selain itu, mendapat izin dari atasan dan belum memiliki gelar S2. Rizqi pun membagikan sedikit tips agar bisa lolos beasiswa. ”Konsepnya yang penting bisa berkontribusi melalui keahlian kita. Jadi nggak harus yang fancy atau muluk. Yang penting reachable dan ilmu S2 yang kita ambil menjawab permasalahan yang kita ingin overcome. Bisa dicek di kurikulum yang ditawarkan kampus,” jelas putri pasangan Saifulloh dan Khumaiyah ini.
Pertama kali menginjakkan kaki di bumi Gandhi, ia memiliki banyak tugas baru, salah satunya adalah beradaptasi dengan cara belajar yang membuatnya stres di awal masuk. ”Sebelum kuliah itu ada kelas persiapan pra kuliah selama dua minggu, namanya Foundation. Kelas dimulai dari jam 9.30 hingga 17.00. Setiap hari saya harus baca tiga jurnal berbahasa Inggris dan per jurnalnya 20 halaman lebih. Saya pusing dan stres parah,” kisah alumnus MI dan MTs Perguruan Mu’allimat Cukir itu.
Teman sekelas yang Bahasa Inggris konteks akademiknya yang dinilai Rizqi lebih ”ngeces”, menghadapi mata kuliah yang membutuhkan kesabaran ekstra, hingga membuatnya ingin menangis. ”Ada mata kuliah statistik yang bikin nangis. Bayangin, udah statistik pakai bahasa Inggris pula. Mana konteksnya nggak dapat karena beda dengan yang ada di Indonesia. Nggak pernah nemu yang kayak begitu,” katanya.
Ia juga beradaptasi dengan makanan. Jika di Indonesia memiliki makanan dengan kaya cita rasa. Makanan di tempatnya kini tinggal hanya memiliki dua rasa. Yaitu hambar dan pedas. ”Saya beruntung pihak kampus menyediakan dapur khusus mahasiswa Indonesia. Saya sangat senang bisa masak, rasanya kayak surga. Karena kalau makan makanan India terus nafsu makan saya berkurang,” jelasnya.
Beberapa culture shock lainnya adalah tentang berpakaian. Boleh mengenakan pakaian yang tak sopan, dan tidak harus bersepatu. Setiap ada perayaan, kampus bakal mengadakan pesta dengan suara musik yang keras. ”Berada di luar negeri itu kompleks sekali masalahnya. Banyak hal yang terjadi di luar ekspektasi. Ada teman kelas yang sangat kompetitif dan susah diajak kerja sama, kadang-kadang kalau capek masak bingung mau cari apa, belum lagi harus kuat iman,” katanya sembari tertawa.
Ia juga harus lebih mawas diri. Sebab pergaulan di India yang serba bebas. ”Orang India itu jago ngomong, merayu, gombal, jadi harus pintar-pintar jaga diri. Ingat tujuan awal dan harus berhasil. Di sini saya juga ikut Perhimpunan Pelajar Indonesia di India buat menambah relasi,” tutup perempuan yang menjadi Kepala Departemen Akademik dan Riset Perhimpunan Pelajar Indonesia di India itu. (wen/naz/riz) Editor : Achmad RW