JOMBANG - Salah satu putra Jombang ini kariernya diakui di kancah internasional. Seorang pengajar hingga pakar Bahasa Arab, dan tercatat menjadi anggota Majelis Umamana (Member of Trustees) di King Abdul Aziz Internasional Center of Arabic Language.
Dia adalah Ahmad Fuad Effendy. Pria kelahiran asli Desa Mentoro 7 Juli 1947 ini anak pertama dari 14 bersaudara. Ayahandanya bernama Muhammad dan ibunya bernama Chalimah. Ia juga kakak sulung dari budayawan dan sastrawan Emha Ainun Najib.
Cak Fuad, begitu ia dipanggil di kalangan keluarga dan masyarakat, memperoleh pendidikan sejak kecil di kampungnya sendiri. Usai menamatkan sekolah di SDN Bakalan, Fuad kemudian melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Gontor hingga tamat SMA.
Lulus dari Gontor, ia memulai kehidupan kampus, mengambil jurusan Bahasa Arab di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, hingga lulus dan mengajar.
“Ya dulu bahkan sebelum lulus sudah mengajar, sempat juga di UGM, lantas kemudian diangkat menjadi PNS dan pindah ke Malang,” terang Nasrul Illah, adiknya. Ia sempat menjabat sebagai dekan di salah satu fakultas di Universitas Negeri Malang (UM) sebelum akhirnya pensiun.
Usai pensiun, bukan berarti aktifitasnya terhenti. Selain masih terus mengalola buletin dalam Bahasa Arab yang ia tebitkan sejak 1973. Cak fuad juga aktif dalam berbagai kajian agama, khususnya tafsir hingga kegiatan kebahasa araban lain. Yang paling bergengsi, tentu saja kiprahnya di dunia internasional dalam Bahasa Arab.
Ya, Cak Fuad adalah salah satu anggota dari 9 orang Majelis Umamana (Member of Trustees) di King Abdul Aziz Internasional Center of Arabic Language. Dilansir dari jawapos.com King Abdullah bin Abdulaziz International Center for Arabic Language adalah lembaga resmi tertinggi dalam menjaga Bahasa Arab di dunia, yang berpusat di Riyad, Arab Saudi. Dia dipercaya untuk menjadi member of the board of trustees (anggota dewan pengawas).
Ada 9 orang dari seluruh dunia yang ditugasi Kerajaan Arab Saudi. Salah seorang diantaranya Cak Fuad, satu-satunya orang Indonesia. Masing-masing ada 4 anggota dari Afrika dan Eropa dan 4 orang yang lain dari Saudi Arabia. “Pada 2013, awal saya terpilih menjadi salah seorang anggota lembaga itu (King Abdullah, Red),” ucap Cak Fuad kepada Jawapos.com.
Diberi amanah awal selama tiga tahun penuh dalam satu periode (2013–2016, Cak Fuad kemudian diangkat kembali member of the board of trustees untuk periode berikutnya. Padahal, tujuh anggota yang lain pada 2016 diganti.
“Saya dan perwakilan dari Saudi yang tidak diganti,” ujarnya. Dia tidak tahu persis alasan dirinya dipertahankan. Alumnus Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu kembali menjabat kali kedua untuk periode 2016–2019.
Hingga kini, bersama lima orang anaknya, Cak Fuad lebih banyak menghabiskan waktunya di rumahnya Jalan Landungsari Asri D/77, Kota Malang. “Meskipun dalam beberapa bulan sekali harus bertugas ke luar negeri karena jabatannya. Serta aktif mengurus jamaah maiyahan di berbagai kota bersama Cak Nun salah satunya di Padhang mBulan Mentoro,” kembali Narsul Illah menjelaskan.
Sosok Kakak Panutan
SEBAGAI anak sulung dari 14 bersaudara, Cak Fuad dimata adik-adiknya memang dikenal sosok yang sangat bertanggung jawab. Bahkan juga jadi rujukan adik-adiknya dalam banyak hal. Terutama ilmu-ilmu menangani Tafsir dan Bahasa Arab.
Hal inipun diakui Emha Ainun Nadjib. Terbukti dari beberapa kesempatan ketika menceriterakan sosok kakak tertuanya itu, Cak Nun menyebutnya sebagai orang yang paling sering ia repoti.
“Cak Fuad adalah satu diantara beberapa orang di dunia yang sering saya bikin susah. Cak Fuad adalah salah satu yang tidak pernah menunjukkan gejala bahwa ia merasa saya bikin susah. Tak pernah tampak pada ekspresi wajah atau perilakunya, bahwa ia menagih masa silam ketika saya bikin dia susah,” tulis Cak Nun, pada buletin khusus ulang tahun sang kakak.
Dari beberapa kerepotan yang disebutnya, Cak Nun merujuk pada Cak Fuad yang merelakan waktunya untuk bisa terus mendampingi, ketika ia sempat dikirim ke Gontor. Berakhir tak lulus di pondok lantaran sedikit kesalahan yang ia buat sendiri. Juga ketika Cak Nun akhirnya rela untuk kembali meneruskan sekolah di Jogja, setelah ia sempat mengundurkan diri kepada kepala sekolahnya sendiri.
“Pada suatu hari karena bertengkar dengan sejumlah guru, saya mendadak tidak mau pergi sekolah. Setelah beberapa hari ketahuan Cak Fuad. Dan sore itu sambil menunggu maghrib Cak Fuad merayu saya “Tolonglah sekali ini saja, supaya ibu tidak sedih hatinya, sekolah lagi lah…” tulisnya menirukan sang kakak.
Karena rayuan itulah akhirnya Cak Nun mau kembali meneruskan sekolah, meski harus terlebih dulu meminta maaf kepada kepala sekolah yang telah dipamiti mundur. “Spontan, terlebih karena urusannya adalah hati ibu, sehabis salat magrib saya jalan kaki ke rumah kepala sekolah, meminta maaf dan mohon diizinkan untuk masuk sekolah lagi,” sambungnya.
Serupa, Nasrul Illah, adik kelima Cak fuad juga menyebut sosok kakaknya memang dikenal adik-adiknya sebagai sosok yang tak saja tertua, namun dituakan. “Memang beliau kalau sama semua adiknya ngemong sekali, artinya beliau yang bisa dengan sabar menghadapi satu per satu tingkah adiknya yang bermacam-macam,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Sifatnya yang dikenal sebagai pribadi yang kalem namun tegas, membuatnya bisa dengan mudah mengasuh ke-13 adiknya. Bahkan setelah kedua orang tuanya meninggal dunia. “Memang dia pengganti ayah dan ibu ketika sudah meninggal. Beliau juga bertanggung jawab atas semua adik-adiknya, baik dari sisi pembiayaan dan tanggungan hidup, semuanya mandiri” lanjutnya.
Cak Fuad juga seringkali jadi rujukan bagi seluruh adik-adiknya untuk meminta pendapat terkait berbagai permasalahan. Bahkan untuk Cak Nun, rujukan Bahasa Arab dan beberapa tafsir dalam keluarga, kepada Cak Fuad rujukan utamanya.
“Makanya di Padhang mBulan misalnya, Cak Fuad tugasnya memang memberi tafsir tekstual di awal, baru nanti tafsir lebih luasnya ke Cak Nun. Di luar forum pun, ketika Cak Nun minta pendapat terkait kata maupun hadits, ya ke Cak Fuad rujukannya,” pungkas Nasrul.
Editor : Binti Rohmatin