RadarJombang.id – Polemik pabrik pupuk PT Maxxi Agri yang mencaplok JUT petani di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung Jombang terus bergulir.
Kesepakatan antara warga, petani dan pabrik pupuk soal JUT yang dicaplok juga masih belum diselesaikan.
Pihak kecamatan Mojoagung, juga mendorong permasalahan ini harus diselesaikan bulan ini.
Camat Mojoagung Muchtar mengatakan, sebelumnya sudah dilakukan pertemuan antara pihak pabrik dengan perwakilan petani di rumah kepala Desa Betek.
Dari hasil pertemuan itu, petani meminta jalur alternatif sebagai pengganti jalan usaha tani yang ditutup ditambah.
”Kemarin kan jalur alternatif pengganti jalan usaha tani (JUT) itu leter L. Petani meminta untuk leter U. Sehingga JUT tidak terputus,” katanya.
Tidak hanya itu, petani juga meminta pabrik untuk membuatkan pintu pada tembok tepat pada saluran air yang terdampak kegiatan pengembangan pabrik.
”Informasi kemarin perwakilan PT Maxxi akan melaporkan ke pimpinan,” ungkapnya.
Meski begitu, pihaknya tetap mendorong permasalahan ini bisa diselesaikan pada akhir bulan ini.
”Ya harapan kami bulan ini bisa diselesaikan,” tegasnya.
Dikonfirmasi melalui telepon selularnya, Haris Su’ud, tim legal PT Maxxi Agri belum bisa memberikan keterangan.
”Besok (hari ini, Red) saja mas, saya di kantor,” pungkasnya singkat.
Seperti diberitakan sebelumnya, protes warga terkait kegiatan pengembangan bangunan PT Maxxi Agri di Desa Betek, Kecamatan Mojoagung terus bergulir.
Pasalnya, selain kegiatan pengembangan bangunan pabrik tak mengantongi izin, keberadaan bangunan juga memutus akses jalan usaha tani (JUT) serta berdampak pada jaringan irigasi sawah.
Warga berharap fungsi jalan usaha tani dikembalikan seperti semula.
”Kemarin malam (26/3) ada pertemuan dengan pemdes terkait pembangunan pabrik Maxxi. Intinya, warga tetap minta jalan usaha tani dikembalikan ke fungsinya semula,” terang Ketua Badan Persmusyawaratan Desa Betek Okky Mabruri kepada Jawa Pos Radar Jombang.
Keputusan itu, lanjut Okky, sudah tercatat dalam notulen rapat. Nantinya hasil rapat akan disampaikan ke pemkab.
”Informasi yang saya dapat memang pak kades sama camat dipanggil pak Sekda untuk menyelesaikan permasalahan ini,” tegasnya.
Ia berharap, apa yang menjadi kepentingan petani untuk mengembalikan fungsi JUT seperti semula mendapat respons dari pemerintah.
”Ya semoga pemkab bisa menyelesaikan masalah petani yang terdampak,” singkatnya. (yan/naz/riz)
Editor : Achmad RW