JOMBANG - Komnas PA Jatim dan orang tua AASR. 6, menyebut, kejadian yang dialami korban ini adalah adalah puncak dari kejadian bullying lain yang dialami korban di sekolah.
Pihaknya menyebut, korban juga sering mengalami bullying di sekolah dalam bentuk tindakan fisik maupun kata-kata.
“Ya, waktu diperiksa tadi anak juga bilang kalau juga jadi korban bullying di sekolah,” ucap Febri kurniawan Pikulun, pendamping korban dari Komnas PA Jatim.
Febri menjelaskan, hal itu diungkapkan korban di hadapan penyidik. Korban sering diperlakukan kasar sejumlah temannya.
“Baik itu berupa kata-kata misal anak orang miskin, sampai yang kepalanya dibenturkan ke meja,” ungkap dia.
Hal itu diharapkan nanti jadi tambahan informasi bagi penyidik untuk melakukan pendalaman.
Apalagi, peristiwa yang dialami korban membuat trauma dan enggan bersekolah.
“Efeknya anak itu tidak mau lagi sekolah. Ini kan juga membuat dilema,” tambahnya.
Nur Aini, ibu korban, menyebut anaknya memang tak pernah mengeluh ataupun curhat kepadanya.
Anaknya dikenal sebagai siswa cerdas namun pasif dan tak pernah berani bercerita langsung.
“Jadi kalau setiap menerima perlakuan begitu dari temannya dia tidak cerita, justru temannya yang cerita ke saya,” lontarnya.
Pihaknya kini hanya bisa pasrah dan menunggu pendalaman yang dilakukan petugas.
“Ya kecewanya memang kepada pihak sekolah, semoga ini jadi yang terakhir,” pungkas dia.
Seperti diberitakan sebelumnya, AASR, 6, seorang siswa kelas 1 SD Negeri di Kecamatan Kabuh mengalami luka bocor di kepala.
Itu setelah ia terkena lemparan kayu dari temannya saat sedang bermain di sekolahnya.
Ironisnya, orang tua korban menyebut pihak sekolah tak memberitahukan kejadian itu kepadanya hingga berujung laporan ke polisi. (riz/bin/riz)
Editor : Achmad RW