JOMBANG - Otopsi yang dilakukan kepolisian resor Jombang juga berhasil mengungkap penyebab pasti kematian korban mutilasi yang ditemukan di saluran air Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, Jombang.
Dari pemeriksaan, korban mutilasi yang belum diketahui identitasnya itu diketahui meninggal karena asfiksia. Atau kondisi kekurangan oksigen.
"Dari tulisannya memang menyebut karena asfiksia, atau kekurangan oksigen begitu," terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Aldo Febrianto.
Meski ditemukan luka bacok pada tubuh korban mutilasi itu, Aldo memastikan berdasarkan hasil otopsi korban memang sempat kehabisan oksigen sebelum meninggal dunia. Namun, saat disinggung apakah itu artinya korban sempat dicekik atau dibekap, Aldo mengaku tak bisa memastikannya.
"Wah kalau itu (dibekap atau dicekik,Red) saya tidak tahu, karena bagian kepala juga tidak ada, sehingga tidak terlihat bekasnya," ungkapnya.
Hingga kini, polisi masih terus melakukan pencarian kepada anggota tubuh korban yang belum ditemukan. Petugas, juga telah memeriksa tiga orang saksi dalam kejadian itu. Masing-masing adalah saksi penemu, warga yang rumahnya terdekat dengan lokasi hingga kepala desa.
Hingga kini, polisi belum berhasil mengidentifikasi identitas korban. Yang diketahui, korban merupakan seorang wanita berusia 25-50 tahun dengan tinggi badan sekitar 145-148 cm. Korban, juga diperkirakan memiliki kulit sawo matang dengan rambut hitam halus sepanjang 33 cm.
Seperti diberitakan sebelumnya, warga Desa Japanan, Kecamatan Mojowarno, digegerkan dengan penemuan jasad dalam dua karung yang ternyata korban mutilasi Jumat (4/8) mlam.
Penemuan itu, pertama kali diketahui pencari ikan di saluran air di pinggir jalan setempat. Saat ditemukan, kondisi tubuh korban terpotong dalam tiga bagian, yakni bagian leher sampai kaki di karung pertama, dan dua potongan tangan di karung ke dua. Sementara bagian kepalanya, hingga kini belum ditemukan. (riz)
Editor : Achmad RW