Advertorial Berita Daerah Desa Kita Event Hiburan Hukum International Kota Santri Masa Lampau Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Ragam Teknologi Tokoh Travel Wanita Wonderland Wonosalam

Warga Sudimoro Geger, Bidan Desa Kabur Setelah Tipu Warga Ratusan Juta

Achmad RW • Kamis, 15 September 2022 | 02:22 WIB
Ilustrasi penipuan
Ilustrasi penipuan
JOMBANG –  LY, 34 seorang bidan Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, kini tidak diketahui keberadaannya. Dia melarikan diri setelah banyak ditagih tetangga kanan kiri dan warga sekitar desanya. Korban dugaan penipuannya, berjumlah puluhan orang dengan taksiran kerugian ratusan juta.

Menurut Saufa, 30, warga Dusun/Desa Sudimoro, permasalahan ini bermula dari ulah sang bidan desa yang seringkali meminjam namanya untuk kepentingan hutang. Termasuk nama dari beberapa warga yang dekat dengannya. “Sudah lama sering pinjam nama saya dan keluarga untuk hutang di bank, maupun di leasing, tapi ya aman saja sebelumnya,” lanjutnya.

Namun, sebulan terakhir ini kondisinya berbalik. Ia kaget lantaran didatangi beberapa petugas penagihan dari bank. Alasannya, nama dan dokumennya diagunkan LY untuk berhutang di sejumlah bank. “Saya pernah minta tolong dibikinkan akte untuk anak, diminta menyerahkan dokumen, ternyata dokumennya malah dipakai hutang,” lontar dia.

Ia makin gusar setelah apa yang dialaminya, ternyata juga dialami sejumlah warga lain di desanya. Sejumlah orang yang pernah menjadi pasien LY, maupun orang yang pernah melahirkan lewat jasa LY, juga didatangi sejumlah petugas bank. “Tetangga ada yang sampai didatangi bank titil, karena dokumen waktu persalinan dipakai untuk mengambil hutang,” tambahnya.

Akibat perbuatan sang bidan, kini tercatat memiliki hutang sebesar Rp 25 juta di sejumlah bank dan leasing. “Padahal saya tidak pernah menerima uangnya, tapi nama saya tercatat hutang di bank konvensional, BPR, leasing juga beberapa tempat lain,” lontar dia.

Kondisi makin pelik, saat ia berupaya melakukan konfirmasi dan klarifikasi masalah ini kepada LY. Saat didatangi di rumah dinasnya di Polindes Sudimoro, dia beserta keluarganya kabur. “Jumat kemarin sempat ramai di balaidesa, dari itu saya tahu puluhan orang jadi korban, total kerugian ratusan juta rupiah,” imbuhnya.

Nasib serupa, juga dialami Ida, 30, warga Desa Ngogri, Kecamatan Megaluh. Ia turut menjadi korban dugaan penipuan LY namun dengan modus berbeda. Ida, baru kenal dua bulan terakhir lantaran menjadi salah satu member arisannya. “Bu Bidan LY ini ikut arisan ke salah satu member saya. Kemudian minta nomor saya dan menawarkan arisan juga, milik temannya yang sedang mengalami kebutuhan mendesak,” ungkap ida.

Ida pun membeli arisan itu karena ucapan LY meyakinkan. Terlebih, harga arisannya lebih murah daripada hasil arisan yang didapat. “Misalkan arisan Rp 10 juta, dijual dia Rp 9 juta, dan Agustus kemarin itu terbayar tepat waktu, makanya saya percaya,” lontarnya.

Setelah itu, LY makin sering menawarkan produk serupa. Alasannya sama karena ada yang membutuhkan uang cepat hingga arisan dilelang. Ida telah membeli sejumlah produk arisan itu dengan total nilai uang Rp 133 juta. “Tapi mulai awal September itu baru terasa masalahnya, uang tidak ditransfer tepat waktu,” lontarnya lagi.

Ia sempat mendesak LY untuk memberikan penjelasan. Hasilnya mencengangkan, LY mengakui jika arisan yang ia jual itu adalah arisan bodong. Kepada Ida, ia melakukannya karena terbelit hutang serupa. “Saya lemes waktu itu, karena uang sudah sebanyak itu, apalagi setelah orangnya kabur dari rumah dinas, tidak tahu ke mana,” bebernya.

Ida juga pernah mendatangi rumah dinas LY di Polindes Sudimoro. Tapi hanya bertemu suami sang bidan. “Suaminya mengaku kalau mau diselesaikan secara kekeluargaan, tapi besoknya dia ikut kabur juga sampai sekarang,” tambah dia.

Upaya lain dengan meminta tolong kepada Pemdes Sudimoro juga telah dilakukan. Namun hingga kini belum ada kabar berarti. “Sampai sekarang masih menunggu tanpa kejelasan, rencana dalam waktu dekat mau laporan bersama warga lain, karena pemdes yang katanya mau bantu laporan juga tidak jadi, cuma mendata saja,” tegasnya.

Dikonfirmasi terpisah, Iptu Wawan Purwoko, Kapolsek Megaluh membenarkan dugaan penipuan yang dilakukan oknum bidan desa itu. Namun, hingga kemarin belum ada laporan dari korban terkait penipuan itu. “Kalau laporan sampai hari ini tidak ada di Polsek Megaluh,” ujar dia.

Hingga berita ini ditulis, Kepala Desa Sudimoro Roni Fatawi, belum bisa dikonfirmasi. Ia, tak ada di kantor desa saat Jawa Pos Radar Jombang datang, kemarin (14/9). Telepon dan pesan singkat yang diarahkan ke nomornya, juga tak direspons ataupun dibalas. (riz/bin/riz) Editor : Achmad RW
#sudimoro #Jombang #penipuan #bidan desa #melarikan diri #Megaluh