RadarJombang.id - Menonton film atau maraton film menjadi salah satu dari banyak agenda menarik yang dapat dilakukan untuk mengisi liburan bersama keluarga atau teman.
Menonton film bersama bermanfaat membangun keakraban atau ikatan. Berbagai film bisa dipilih sesuai genre sekaligus menyesuaikan selera penontonnya.
Selain memberikan kesenangan atau membangkitkan mood, isi film yang ditonton juga bisa menyumbang inspirasi baru.
Terlebih film keluarga atau film yang mengulas perjuangan seseorang bisa menjadi contoh melalui pesan yang dibawakan.
Berikut ini beberapa rekomendasi film yang bisa ditonton sembari menghabiskan liburan bersama keluarga atau teman.
1. Night at the Museum
Film Night at the Museum (2006) memadukan antara genre komedi, fantasi, serta petualangan seru yang cocok dinikmati bersama keluarga. Film ini disutradarai oleh Shawn Levy yang diadaptasi dari novel berjudul sama.
Film menceritakan seorang laki-laki sekaligus ayah bernama Ben Stiller yang ingin membuat anaknya terkesan dengan pekerjaannya.
Setelah berulang kali mengalami kegagalan dengan usahanya, Ben diterima di suatu museum yakni Museum of Natural History sebagai penjaga.
Keseruan dimulai ketika Ben harus berjaga di shift malam menggantikan penjaga senior yang pensiun.
Barang-barang koleksi museum menjadi hidup termasuk patung fosil dinosaurus. Mereka kerap membuat Ben repot dengan berbuat kekacauan. Film ini mampu memantik imajinasi anak-anak melalui dunia fantasi.
Selain itu, penggambaran museum yang seru dapat menarik pandangan orang tentang dunia sejarah.
2. Keluarga Cemara
Film Keluarga Cemara merupakan film drama yang menampilkan perjuangan sebuah keluarga yang haru beradaptasi demi keberlangsungan hidupnya. Film ini diproduksi tahun 2018 dengan sutradara Yandy Laurens.
Awalnya cerita dalam film sudah lebih dahulu dituliskan pada cerita pendek dan novel berseri. Film bercerita tentang sebuah keluarga beranggotakan 4 orang yakni Abah, Emak, Euis, dan Ara yang mengalami perubahan kondisi kehidupan khususnya dalam hal ekonomi.
Keluarga mereka ditipu sehingga harus berpindah dari tempat tinggal di kota menjadi kehidupan pedesaan.
Film ini menunjukkan pentingnya ikatan keluarga dan kebersamaan di saat masa-masa sulit.
Selain berbagai kebahagiaan, keluarga juga tempat untuk saling mendukung dan saling percaya.
Tokoh Abah mencerminkan nilai kerja keras dan pantang menyerah meski berulang kali gagal.
Abah dalam film digambarkan berulang kali berganti-berganti dan mencoba pekerjaan untuk mencukupi kebutuhan.
Euis dan Ara yakni kedua putri Abah dan Emak juga berusaha memahami kondisi keluarga, mereka tetap tersenyum dan ikut berusaha beradaptasi di lingkungan baru.
Meski masih anak-anak, mereka sebaik mungkin tidak menyusahkan kedua orang tua.
3. Ngeri-Ngeri Sedap
Drama keluarga lain berbalut unsur komedi yang tidak kalah seru untuk ditonton yaitu Film Ngeri-Ngeri Sedap (2024). Film ini mengambil latar keluarga batak yang terpisah karena jarak.
Sepasang suami istri yakni Pak Domu dan Mak Domu memiliki kerinduan besar terhadap anak-anaknya yang merantau ke Jawa. Mereka berulang kali meminta anaknya pulang tetapi selalu ditolak oleh banyak alasan.
Pasutri tersebut pun bersiasat dengan pura-pura bertengkar hebat hingga berencana bercerai dengan harapan anak-anaknya akan pulang setelah mendengar kabar buruk itu.
Film ini dapat ditonton di Netflix dengan judul “Missing Home”. Selain membawakan kondisi sebuah keluarga yang dinilai memiliki pencerminan kuat terhadap kondisi masyarakat, film yang disutradarai Bene Dion ini juga menarik perhatian melalui penggambaran isu-isu budaya Batak.
Isi film menunjukkan pentingnya ikatan antarkeluarga meski terpisah jarak sekalipun.
4. Home Sweet Loan
Home Sweet Loan merupakan film drama dengan unsur komedi serta sedikit romantisme.
Film ini menyajikan kisah keluarga serta persahabatan yang kental dilatari persamaan nasib. Kaluna (Yunita Siregar) merupakan pegawai kantoran yang baru merilis karir.
Kaluna bermimpi memiliki rumah impiannya sendiri. Selama ini ia hidup satu rumah bersama orang tua, kedua kakak dan ipar, serta keponakan.
Bersama teman-temannya yang memiliki mimpi serupa, Kaluna mulai berhemat dengan menekan pengeluaran yang tidak perlu, mencari tambahan pekerjaan, bahkan meminta pinjaman kantor.
Film ini dinilai sangat relate dengan kehidupan generasi sandwich yang memiliki kewajiban menanggung beban keluarga.
Dalam film, Kaluna kerap kali harus mengalami konflik emosional antara mengejar impiannya atau membantu keluarga.
Kaluna menyadari kondisi keuangan keluarga yang buruk dan ia tidak bisa dengan mudahnya menutup mata. Pada film ini, ambisi bersinggungan dengan tanggung jawab, dan finansial keluarga.
5. Petualangan Sherina
Jika ingin menikmati nuansa baru dengan menonton film bertajuk komedi musikal, maka Film Petualangan Sherina bisa menjadi satu jujukan. Film ini diproduksi tahun 2000 yang disutradarai Riri Riza.
Musik dalam film ditata sedemikian rupa untuk menghadirkan dunia keceriaan anak-anak sesuai tokoh utama yakni anak perempuan bernama Sherina.
Awalnya Sherina tinggal Jakarta bersama keluarganya, tetapi ia harus pindah sekolah ke Bandung ketika ayahnya dipindahtugaskan.
Sherina adalah anak yang energik, periang, dan suka bernyanyi. Perjalanan Sherina mulai menegangkan ketika ia terlibat dalam kasus penculikan temannya bernama Sadam.
Meskipun biasanya Sherina sering menjadi target kelakuan nakal Sadam, Sherina tetap berniat menyelamatkan temannya itu,
Film ini mengajarkan anak-anak tentang persahabatan dan kerja sama. Cerita dalam film menghadirkan petualangan anak-anak yang menguji kecerdasan dan keberanian. Menonton film ini bersama keluarga bisa menjadi sarana nostalgia.
Lagu-lagu yang dinyanyikan Sherina sendiri menambah nuansa keceriaan dan kegembiraan anak-anak.
6. Sekawan Limo
Sekawan Limo merupakan film terbaru dari komedian Bayu Skak, Bayu sendirilah yang menyutradarai pembuatan film.
Film ini memadukan nuansa film horor komedi yang tidak lepas dari kekocakan tokoh-tokohnya.
Isi film menceritakan peristiwa yang dialami Bagas (Bayu Skak) saat mendaki Gunung Madyopuro menemani teman sekampusnya Leni (Nadya Arina).
Sebelum mendaki, mereka berdua diperingatkan oleh petugas pemeriksaan untuk tidak melanggar pantangan yakni “jangan menoleh ke belakang”.
Dalam perjalanan, Bagas dan Leni bertemu dengan pendaki lain yaitu Dicky, Juna, dan Andrew.
Selama perjalanan mereka kerap kali mendapat gangguan seperti Leni yang melihat pocong, Juna yang melihat kuntilanak, bahkan Dicky yang diikuti sosok genderuwo.
Mereka juga kerap kali tersesat dan berputar-putar terus di wilayah gunung sampai perbekalan yang dibawa mulai menipis.
Melalui keanehan ini, Bagas lantas menaruh kecurigaan bahwa salah satu dari mereka pasti ada yang telah melanggar pantangan.
Bagas juga merasa salah satu dari lima orang pendaki ini bukanlah manusia.
Film ini menyajikan komedi, konflik kehidupan, sisi mistis, hingga kesedihan yang akan mengaduk emosi.
Bagian akhir film memberikan pesan untuk jangan terlalu terus terpaku pada masa lalu sebaliknya kehidupan harus terus berjalan tanpa penyesalan.
(Rediva Novalisty)
Editor : Achmad RW