RadarJombangid – Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) turut menyemarakkan persiapan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dengan menggelar bedah buku dan talkshow di Aula MAN 3 Jombang, Sabtu (8/8).
Mengangkat tema ’’Khittah NU, Kyai, dan Pesantren: Merawat dan Moderasi, Menjaga NKRI’’.
Buku yang dibedah merupakan karya Prof HM Zainuddin, rektor UIN Malang 2021–2025 sekaligus alumni MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas.
Baca Juga: Pengurus IKABU Pusat Resmi Dikukuhkan, Majelis Pengasuh Dorong Kemandirian Ekonomi Alumni
’’MAN 3 Jombang PPBU Tambakberas selalu siap mendukung kesuksesan Muktamar NU. Kami juga bangga punya alumni seperti Prof Zainuddin dan Prof Nur Ali,’’ kata Kepala MAN 3 Jombang, H Sutrisno ME MPd.
Ketua Ikatan Alumni MAN 3 Jombang sekaligus Ketua Senat UIN Malang, Prof H Nur Ali, menyampaikan, khittah NU tidak sekadar dokumen politik-kebangsaan hasil Muktamar NU 1984 di Situbondo.
’’Khittah NU harus menjadi kompas, dasar, arah berpikir, serta landasan etik dan moral bagi warga Nahdliyin, termasuk peserta Muktamar NU ke-35,’’ terangnya.
Baca Juga: Dukung Muktamar NU ke-35 di Jombang, PG Djombang Baru Siapkan Mes hingga Bersih-Bersih Lingkungan
Terlebih, Muktamar NU ke-35 akan digelar di bumi pendiri sekaligus penggerak NU, KH Wahab Chasbullah.
’’Kyai sebagai pengawal NU dan pesantren sebagai laboratoriumnya akan bertransformasi dengan kebutuhan masyarakat global,’’ ungkapnya.
Sementara Prof Zainuddin mengulas arah NU di era global. Dia juga menyoroti pergeseran peran kyai di tengah masyarakat.
Dalam bukunya, dia mencatat peran NU, kiai, dan pesantren merawat tradisi serta moderasi dalam menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sejumlah catatan kritis dan analisis dalam buku tersebut juga memberikan tawaran solusi atas berbagai persoalan yang terjadi di tengah masyarakat, pesantren, dan NU.
’’Perlu dirumuskan hal-hal yang menyangkut NU ke depan. Bagaimana mempersiapkan pemimpin NU pada muktamar mendatang, dan bagaimana merancang program 5 tahunan ke depan (road map),’’ katanya saat memaparkan isi buku.
Sedangkan H Fathul Huda, Bupati Tuban dua periode 2011–2021 sekaligus alumni Madrasah Muallimin Muallimat (MMA) Bahrul Ulum Tambakberas, mengajak peserta meneladani kiprah KH Wahab Chasbullah (Mbah Wahab).
Baca Juga: Menyongsong Abad Kedua Nahdlatul Ulama dan Peta Kepemimpinan Masa Depan Pasca Muktamar ke-35
Keteladanan Mbah Wahab menjadi salah satu bekal penting untuk menjawab tantangan NU dan pesantren ke depan.
’’Al-mar'u ma'a man ahabba (seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai), dan apa yang dilakukan Mbah Wahab itu sudah komplet. Baik kecerdasan beliau, enerjik dan pemberani mengambil sikap, itu yang harus kita copy paste sebagai santri,’’ urainya.
Gayung bersambut, Nyai Hj Hizbiyah Rochim Wahab MA, salah satu putri Mbah Wahab yang hadir, mengaku prihatin dengan kondisi PBNU saat ini.
’’Warga NU membutuhkan sosok pemimpin yang teduh, mengayomi, dan bisa menjadi teladan. Kepemimpinan PBNU harus mencontoh kepemimpinan Kyai Hasyim, Kyai Wahab dan Kyai Bisri,’’ pesannya.
Bedah buku dan talkshow tersebut merupakan inisiatif para alumni yang kini menjadi pengasuh pondok pesantren, guru besar, akademisi, dan praktisi.
Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya ikut menyukseskan Muktamar ke-35 NU yang akan digelar di PPBU pada 27–31 Agustus 2026.
Turut hadir Ketua Umum Yayasan PPBU KH Abdur Rozaq Sholeh. Ketua Majelis Pengasuh PPBU Dr KH Hasib Wahab Hasbullah.
Ketua Panitia Prof Hj Evi Fatimatur Rusydiyah. Doa penutup dipimpin KH Moh Syifa' Malik MPdI, sekretaris Yayasan UNWAHA Jombang. (ang/jif)