JOMBANG - Taliyah Kanaya, juara lomba puisi Piala Kajari Jombang yang juga siswa kelas 8 SMPN 3 Peterongan Jombang seperti kejatuhan bulan.
Kali pertama lomba baca puisi yang diikutinya, justru mengantarkan dia meraih juara 1 tingkat SMP/MTs se-Jombang.
Begitu nama Taliyah masuk undian berikutnya untuk tampil di hadapan dewan juri, ia langsung bergerak menuju kursi operator.
Sambil menyiapkan clip on di kepalanya, ia duduk tenang di kursi. Kedua tangannya langsung diangkat.
Bibirnya komat-kamit sambil kepalanya terus menengadah ke atas. Terlihat kusuk berdoa.
Sejurus kemudian, dengan suara lantang, ia membaca puisi berjudul Mata Luka Sengkon Karta karya Peri Sandi Huizche.
Intonasi suaranya mantap. Sesekali bahasa tubuhnya merunduk, berdiri dan menoleh kanan kiri, menyesuaikan dengan isi puisi yang dibacakan.
”Saya baru pertama kali mengikuti lomba puisi. Karena baru pertama, ya grogi,” katanya sambil tersenyum.
Meski demikian, latihan berulangkali yang dijalani, baik di pesantren maupun di sekolah, memantapkan niatnya agar bisa tampil ekspresif. Apalagi, suaranya parau tapi terdengar lantang.
“Alhamdullilah saya punya suara besar, jadi percaya diri saja,” kata anak kedua dari pasangan Nine Adien Maulana dan Hikmatun Ni’mah ini.
Padahal, sebelumnya, dia tidak bisa membaca puisi. Namun setelah ditunjuk, Taliyah mulai gigih berlatih.
Lambat laun ia semakin termotivasi untuk mengikuti perlombaan. ”Sebenarnya saya tidak begitu suka puisi. Kadang srek baca puisi kadang juga tidak,” ceritanya polos.
Karena itulah dia merasa sangat bersyukur atas perolehan prestasi yang didapatkan. Kini, ia ingin mengikuti lomba baca puisi kembali di tempat lain.
”Ya, kalau ada lomba lagi ikut. Karena juara, saya jadi bisa baca puisi,” imbuh santri Ponpes Darul Ulum Rejoso ini.
Mulai sekarang, ia akan mengasah kemampuan baca puisinya dengan banyak membaca buku apa saja. Terutama tentang puisi karya sastrawan ternama.
”Kalau membaca itu memang hobi saya,” ucap pelajar yang berasal dari Desa Pacarpeluk, Kecamatan Megaluh ini.
Kepala SMPN 3 Peterongan Nurkolis mengaku bangga atas keberhasilan peserta didiknya meraih juara 1 di ajang lomba baca puisi yang digelar Jawa Pos Radar Jombang.
”Disampaikan oleh guru pendamping lomba ini yang paling fair,” katanya.
Terlebih, ada kebijakan golden tiket yang membuat siswa berbakat punya kesempatan sama. Bisa tampil di Grand Final untuk menunjukkan kemampuan yang sebenarnya.
”Karena kalau hanya mengandalkan like maupun viewers saja, maka yang punya kemampuan masih bisa kalah,” pungkas dia.
Pihaknya berharap, lomba puisi berikutnya turut memberi ruang yang sama kepada semua siswa.
Termasuk di semua jenjang, baik SD/MI maupun SMP/MTs. Karena turut mencetak sastrawan muda berbakat di bidang puisi dan budaya. (yan/bin/riz)
Editor : Achmad RW