JOMBANG – Pemerintah Desa (Pemdes) Morosunggingan, Kecamatan Peterongan, membuka kolaborasi dengan kalangan akademisi untuk memperkuat kebijakan di sektor pertanian.
Salah satunya dengan menerima kunjungan siswa dan pembimbing MA Unggulan Darul Ulum Rejoso yang melakukan kajian mengenai dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap kesejahteraan petani, Selasa (4/8).
Kepala Desa Morosunggingan Sunarjo mengatakan, pihaknya menyambut baik kerja sama tersebut. Menurut dia, hasil kajian akademik dapat menjadi masukan dalam merumuskan kebijakan yang berpihak kepada petani.
”Mereka meminta bantuan dan bimbingan sehubungan dengan pelaksanaan tugas akhir, serta penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pembahasan tersebut,” ujarnya.
Dalam penelitian itu, para siswa menganalisis dampak fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terhadap kesejahteraan petani di Desa Morosunggingan. Sunarjo menegaskan, peningkatan kesejahteraan petani menjadi salah satu prioritas pemerintah desa. Karena itu, diperlukan indikator yang mampu menggambarkan kondisi riil petani, salah satunya melalui Nilai Tukar Petani (NTP).
Baca Juga: Ribuan Warga Padati Miagan Umbrella Fest 2026, Desa Miagan Jombang Promosikan UMKM dan Budaya Lokal
”Perlu ditentukan Nilai Tukar Petani sebagai indikator pendekatan sebagai perbandingan antara indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar oleh petani,” tandasnya.
Menurut dia, indikator tersebut penting sebagai dasar dalam menentukan arah kebijakan pembangunan sektor pertanian. Terlebih, mayoritas masyarakat Desa Morosunggingan menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.
Sunarjo menjelaskan, pelemahan nilai tukar rupiah turut berdampak pada kenaikan harga pupuk dan meningkatnya biaya produksi pertanian. Kondisi tersebut secara langsung dirasakan para petani. ”Dalam konteks ini, para petani akan merasakan dampaknya secara langsung,” ujarnya.
Dia menambahkan, pelemahan rupiah terjadi ketika kondisi ekonomi masyarakat perdesaan belum sepenuhnya pulih dan masih menghadapi berbagai tantangan.
Mulai dari ketergantungan terhadap barang impor, rendahnya nilai tambah hasil pertanian, terbatasnya akses pembiayaan produktif, hingga lemahnya infrastruktur logistik.
”Petani merupakan kelompok pertama yang merasakan dampaknya. Harga pupuk nonsubsidi serta pestisida melonjak karena sebagian bahan bakunya berasal dari impor. Begitu pula suku cadang alat pertanian yang kebanyakan menggunakan komponen luar negeri,” pungkasnya. (dwi/naz)
Editor : Anggi Fridianto