JOMBANG - Tradisi bersih desa masih terus dijaga warga Desa Ngampungan, Kecamatan Bareng. Bukan sekadar kerja bakti membersihkan lingkungan, warga juga menggelar doa bersama di Sumber Mata Air Ubalan hingga punden para leluhur sebagai ungkapan syukur dan penghormatan kepada para pendahulu desa.
Rangkaian Bersih Desa Ngampungan 2026 dimulai Selasa (16/6). Seluruh warga bergotong royong membersihkan lingkungan di masing-masing dusun. Setelah itu, mereka berkumpul di kawasan Sumber Ubalan untuk menggelar doa bersama. Tradisi tersebut sekaligus menjadi bagian dari peringatan Tahun Baru Islam.
Kepala Desa Ngampungan Rohan mengatakan, tradisi bersih desa selalu diawali dengan kerja bakti dan doa bersama di sumber mata air sebagai simbol kebersamaan sekaligus penghormatan terhadap alam.
”Agenda kerja bakti dan doa bersama di sumber mata air merupakan bentuk guyub rukun warga kami dalam menghormati alam. Semangat kebersamaan ini selalu kami tekankan melalui pedoman guyub rukun mbangun deso,” tandasnya.
Bagi masyarakat Ngampungan, Sumber Ubalan bukan hanya sumber air yang memenuhi kebutuhan warga. Lokasi itu juga dipercaya sebagai situs bersejarah dan menjadi sumber pasokan utama air bagi Wisata Pandansili, salah satu penyumbang terbesar Pendapatan Asli Desa (PAD) Ngampungan.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada Rabu (17/6). Warga bersama pemerintah desa berziarah ke sejumlah punden dan makam leluhur. Mulai Makam Mbah Sampurno di Dusun Ngampungan, Makam Mbah Wonojati di Dusun Sumberdadi, Makam Mbah Proyo di Dusun Wungurejo, hingga Makam Mbah Longgor atau Mbah Jobranti di Dusun Ngampungan.
Menurut Rohan, doa bersama di punden menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi bersih desa. Selain sebagai ungkapan syukur, tradisi tersebut juga menjadi bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah membuka dan membangun desa. ”Doa bersama di lokasi punden atau makam para leluhur desa merupakan bentuk rasa syukur warga desa kami terhadap para pendahulu yang dianggap berjasa pada desa,” urainya.
Dia menambahkan, tradisi yang terus dilestarikan itu juga mempererat kebersamaan warga. Seluruh rangkaian kegiatan terlaksana berkat gotong royong dan swadaya masyarakat. ”Rangkaian kegiatan ditutup di malam hari dengan tasyakuran dan doa bersama (barik'an) oleh jajaran pemdes dan masyarakat di balai desa serta lingkungan RT masing-masing,” pungkasnya. (dwi/naz)
Editor : Anggi Fridianto