JOMBANG – Kondisi saluran air di Desa Badas, Kecamatan Sumobito, berbuih dan mengeluarkan bau tak sedap.
Kondisi tersebut terlihat di hilir bendung saat debit air menyusut bertepatan musim kemarau.
Air di saluran tampak berbusa dengan warna keputihan.
Warga menduga kondisi itu berkaitan dengan masuknya limbah dari aktivitas industri di sekitar saluran.
Yanto, salah seorang warga yang melintas, mengatakan kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama.
Namun, perubahan kondisi air semakin terlihat ketika musim kemarau.
”Sudah lama, apalagi sudah musim kemarau semakin kuat baunya,” katanya.
Dia menduga buih dan perubahan kondisi air berkaitan dengan aliran limbah dari kegiatan industri yang masuk ke saluran.
Menurutnya, terdapat aliran limbah yang mengarah ke saluran tersebut.
Baca Juga: 104 Titik Lahan Jombang Tercemar Limbah B3, Pemkab Perbarui Data untuk Percepat Clean-Up
”Ya mungkin dari limbah industri, sama seperti yang di dekat pondok itu,” imbuhnya.
Selain muncul buih dan perubahan warna, bau air juga semakin menyengat saat debit menyusut.
Yanto menduga kondisi tersebut diperparah masuknya limbah sisa produksi.
”Kemarau begini, baunya semakin menyengat. Bisa jadi airnya sudah sedikit, ketambahan banyak limbah,” tuturnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang Miftahul Ulum mengatakan pihaknya akan melakukan pengecekan langsung untuk memastikan sumber pencemaran.
”Kalau ini biar nanti atau besok (hari ini) dicek lapangan dahulu. Biar bisa dipastikan lebih detail limbah dari mana,” katanya.
Ulum mengakui terdapat sejumlah titik saluran yang kondisi airnya diduga mengalami pencemaran.
Untuk penanganan sementara, DLH Jombang menyiapkan langkah kedaruratan, khususnya untuk persoalan limbah di saluran.
Salah satunya dengan menanam eceng gondok sebagai metode fitoremediasi.
Tanaman tersebut diharapkan membantu mengurangi dampak pencemaran, terutama bau dan perubahan warna air.
”Jadi begini, untuk yang kegiatan penanganan limbah di saluran, kami sudah menyiapkan langkah kedaruratan.
Berupa penanaman eceng gondok fitoremediasi.
Memang itu tidak menyelesaikan, tetapi cukup mengurangi,” jelasnya.
Menurut Ulum, penanaman eceng gondok setidaknya diharapkan dapat mengurangi bau dari air yang tercemar.
Selain itu, tanaman tersebut disebut memiliki kemampuan menyerap polutan yang terdapat di dalam air.
”Minimal dari bau atau dari warna memang masih ada.
libahBaca Juga: Diprotes Warga Plemahan Jombang, Pabrik Plastik Janji Uji Emisi dan Limbah Sebelum Beroperasi
Tetapi Insya Allah bau cukup berkurang.
Ada jurnal juga menerangkan eceng gondok itu bisa menyerap polutan yang ada di air,” ujarnya.
Untuk sementara, penanaman eceng gondok dilakukan di wilayah saluran di Rejoso.
Upaya serupa belum dilakukan di titik saluran lainnya.
”Sementara di Rejoso teman-teman sudah menanam eceng gondok.
Memang belum menyelesaikan, tetapi kami sudah menyiapkan langkah kedaruratan.
Sifatnya darurat sambil menunggu pembangunan IPAL dari pemerintah pusat,” katanya. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto