JOMBANG – Panen tembakau di Jombang tahun ini diprediksi mundur.
Jika biasanya panen raya mulai berlangsung akhir Agustus dan mencapai puncak September, tahun ini puncak panen diperkirakan baru terjadi November.
Mundurnya panen dipicu waktu tanam yang ikut bergeser akibat faktor cuaca.
Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) Jombang Lasiman mengatakan, hujan yang masih turun sebelumnya membuat waktu tanam tembakau tidak serentak.
Sejumlah lahan bahkan baru bisa ditanami hingga Juli karena kondisi tanah belum cukup kering.
”Panen tahun ini mundur.
Tidak bisa serentak seperti dulu,” katanya.
Dalam kondisi normal, petani biasanya mulai menanam tembakau pada Mei.
Namun, tahun ini sebagian petani baru bisa menanam hingga Juli.
Mundurnya waktu tanam otomatis berdampak pada waktu panen.
”Biasanya Mei sudah tanam.
Baca Juga: Embung Sumbergondang Jombang Terus Mengering, Petani Berburu Sumur untuk Selamatkan Tembakau
Tahun ini sampai Juli baru ada yang tanam.
Awal tanam mundur, otomatis panennya juga mundur,” imbuhnya.
Lasiman menyebut, pada kondisi normal panen tembakau mulai berlangsung akhir Agustus dan mencapai puncak pada September.
Tahun ini, puncak panen raya diperkirakan bergeser hingga November, dengan catatan kondisi cuaca tetap mendukung.
”Normalnya akhir Agustus dan puncaknya biasanya September.
Tahun ini diprediksi November itu puncak panen raya,” ungkapnya.
Meski waktu panen mundur dan tidak serentak, Lasiman berharap kondisi cuaca tetap mendukung hingga masa panen.
Kemarau yang diprediksi panjang diharapkan membantu petani memperoleh hasil panen yang baik.
”Insya Allah dan semoga baik hasil panennya.
Karena prediksinya juga kemarau panjang,” katanya.
Tahun ini, luas tanaman tembakau di Jombang diperkirakan mencapai sekitar 6.500 hektare.
Lahan tersebut tersebar di lima kecamatan di wilayah utara Sungai Brantas. (fid/naz)
Editor : Anggi Fridianto